OELH: DASRIELNOEHA
Di depan sebuah bank yang terkenal di Jakarta, tepat di seberang jalan ada sebuah jalan lagi yang agak kecil, gang disebutnya. Disana mangkal abang becak dan abang tukang ojek, ada belasan jumlahnya. Demikian juga di setiap mulut jalan di Jakarta dan juga di kota-kota besar lainnya di Indonesia akan kita temui hal yang sama. Si abang ojek menunggu penumpang untuk diantar kerumah di jalan-jalan yang sempit yang tidak dimasuki oleh bis kota atau taksi.
Siang itu Bang Samin seorang tukang ojek tengah terkantuk-kantuk menunggu nona-nona atau ibu-ibu pengunjung bank yang rumahnya tidak terlalu jauh dari dari situ. Perutnya keroncongan minta diisi, karena tadi dari rumah memang ia belum makan sama sekali, hanya minum kopi pahit di warung depan rumah yang itupun masih ia hutang. Bang Samin nanar menatap orang yang hilir mudik dan keluar masuk pintu bank. Alangkah enaknya kalau punya uang banyak demikian ia ngelamun, tidak usyah susah narik ojek atau mencari makan kesana kemari. Susah hidup di Jakarta sudah banyak ia alami, ia pernah jadi pemulung, pernah jadi tukang sapu pasar, pernah jadi kenek mobil sampah, semuanya penghasilannya hanya pas-pasan buat ia hidup dengan isterinya dan dua orang anak yang telah mulai masuk sekolah dasar. Sekarang ia narik ojek milik seorang tetangga orang kaya Ncim Linda dipanggil orang, juga tempat isterinya jadi buruh cucian. Untung masih ada orang kaya sebaik Linda, yang mempercayakan motor Yamaha bebek miliknya buat ia pakai mengojek. Ia harus setor tiga puluh ribu satu hari diluar uang bensin. Ia masih bersyukur dengan sedikit susah payah menunggu penumpang dan modal kehati-hatian dan sedikit pakaian rapi ia masih bisa dapat penumpang nona atau ibu-ibu yang minta diantar kesekitar daerah itu dengan biaya tarikan antara lima sampai sepuluh ribu. Ia pulang jam sembilan malam hari, dan masih dapat memberi uang sekitar dua puluh lima ribu buat isterinya setelah dipotong uang setoran buat Encim Linda dan beli bensin lima liter buat narik esok harinya. Masih lumayan pikirnya. Namun hatinya tergetar juga melihat orang kaya yang keluar masuk bank, pasti mereka banyak uang dan pasti hidupnya enak, demikian ia melamun.
Kapan aku bisa seperti itu, ah.. hidupku akan seperti ini terus? Namun cepat ia hapus lamunan itu dengan mengucap Astagfirullah...karena Bang Samin adalah seorang Muslim yang baik.
“Alhamdulillah” ucapnya, saya masih dapat rejeki dari Allah.
Ia mau menjadi seorang hamba yang baik, mencari rejeki dengan halal walaupun harus mandi keringat. Ia tahu dalam kitab juga di beri isyarat bahwa hidup bukanlah diukur dengan banyaknya harta, Allah tidak memandang makhluknya dari segi banyak sedikitnya harta mereka, namun akan dibedakan dengan ketaqwaan meraka.
Bang Samin kemudian berdoa’a “ Ya Allah teguhkanlah iman hamba, jauhkanlah hamba dari godaan syetan yang terkutuk, jauhkanlah hamba dari godaan harta dunia, relakanlah rejeki yang hamba terima dari Engkau, jadikanlah rejeki ini untuk membawa hamba dan keluarga hamba kesyurgamu, ya Allah ampunilah hamba yang naif ini, yang kadang-kadang dengan kelemahan hamba, hamba mengeluh hidup dalam kemiskinan, jadikanlah hamba orang yang pandai membaca isyarat-Mu ya Allah, ya Allah restuilah kehidupan hamba”, do’a Samin setiap sehabis sholat magrib dan pada setiap senja di mushola lantai dasar bank itu. Ia numpang shalat di situ, karena ia berteman baik dengan satpam bank itu.
Bang Samin mengakhiri lamunannya, karena ia tahu bahwa yang didepannya banyak godaan terbentang adalah sebagai isyarat Tuhan bagi hambanya yang mau membaca ayat-ayat-Nya. Sehabis itu ia merasa lega hatinya, karena ia tahu bahwa Allah masih sayang kepadanya.
“ Bang”, tiba-tiba ia dipanggil oleh Anita seorang pegawai bank langganannya. “Tolong antar aku kerumah dan nanti kita balik lagi, ya bang, sambil tangannya menyodorkan lembaran uang lima puluh ribu.
“Baik Non, tapi uangnya kebanyakan, non”, jawab bang Samin.
“Ah, gak itu buat abang”.
“Alhamdulillah, mari Non”.
Sewaktu kembali ke bank Anita menawarkan sesuatu kepada bang Samin.
“Bang, nanti temui saya di rumah sepulang dari kantor, saya akan bantu abang untuk mendapatkan bantuan kredit motor buat abang, jangan lupa ya bang”. “Baik non”, dan Bang Samin berdo’a dalam hatinya, “Ya Allah terima kasih atas rejekimu ini, peliharalah keselamatan Nona Anita, dan limpahkanlah rejekinya, Ya Allah Rabbalalamin”. Bang Samin sungguh bersyukur karena segera ia akan punya motor sendiri.
Sorenya sehabis sholat maghrib bang Samin denagn ditemani oleh isterinya datang menemui Anita, di rumah kontrakan Anita yang tak jauh dari kamar kontrakan Samin.
“Assalamulaikum”.
“Waalaikum salam”’ masuk bang jawab Anita. Bang Samin datang kerumah Anita dengan isterinya Salmah.
“Bang, ini kunci motor, dan itu motornya di samping rumah”, abang mulai hari ini narik ojek milik sendiri. Namun, buat sementara STNK atas nama saya, sampai cicilannya lunas. Abang kan bisa nyari uang dua puluh ribu setiap hari, minimum, dan setorkan kepada saya, uang itu buat nyicil kredit motor itu ke bank. Namun, bila abang bisa nyetor lebih banyak dari itu, alhamdulillah, nanti kreditnya bisa cepat lunas, dan STNK serta BPKB akan kita balik nama ke abang, abang ngerti kan? Anita menjelaskan kepada Samin.
“Ngerti Non, abang terima kasih banyak telah Non Anita bantu”, Samin suaranya bergetar karena menahan tangis bahagia di kerongkongannya.
“Ada lagi, ibu kan bisa buat kue jajan pasar, buat sarapan kawan-kawan kita di bank?, tanya Anita ke isterinya Samin.
“Bisa, non, dulu di kampung saya juga membuat kue buat di jual ibu saya di pasar”.
“Nah, cocok kalau begitu, mulai besok ibu buat kue apa saja seperti serabi, pastel, onde-onde, lima puluh bungkus setiap hari. Saya kasih ibu harga lima ribu perbungkus, terserah ibu buat berapa potong perbungkusnya. Ini uang persekot lima ratus ribu buat ibu belanja. Itu uang dari saya buat ibu, gak usyah dikembalikan, pakai buat modal, yang penting besok saya melihat ibu ngantarkan kue ke bank”. Setiap sore ibu ambil uangnya dari saya di sini.
“Terima kasih banyak non”, isteri Samin langsung merunduk mencium lutut Anita. Non Anita sungguh baik membantu keluarga kami.
“Bang dan ibu, kalian sudah saya anggap saudara saya sendiri. Dulu juga saya punya saudara seusia kalian. Tapi mereka berumur pendek. Mereka itu pedagang sayur di Jawa. Suatu hari mobil yang mereka tumpangi kecelakaan. Kakak saya dan suaminya itu meninggal. Saya ke hilangan mereka.
Sekarang, saya seakan melihat mereka hadir kembali melalui sosok abang Samin dan mpok Salmah. Saya serasa mempunyai saudara kembali.
“Non, kami merasa terhormat non Anita anggap sebagai saudara. Kami akan bela non Anita sebagai adik kami sendiri, percayalah non, nih si Samin orang yang dihormati di gang sini, akan jadi saudara yang akan membela non kalau ada orang yang mau jahatin, kata Samin sambil mencium tangan Anita.
“Mulai hari ini baju non biar saya yang nyuci ya, kata mpok Salmah.
“Jangan mpok, mpok hanya membuat kue yang enak saja. Saya punya pembantu mbak Karti yang mengurus urusan saya”.
“Baiklah, non”.
Begitulah bang Samin dan isterinya Salmah telah dirubah Tuhan nasibnya perantaraan seorang pegawai bank yang baik yang bernama Anita.
Tuhan Maha Penolong umatnya yang pandai bersyukur dan hidup ikhlas serta berbakti pada-Nya.
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu,
Yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya,
Pada hal tidak ada seorangpun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
Tetapi dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi,
Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.
(AlQur’an surat Al Lail, ayat 17,18,19,20,21).
Tawassaw Bil Haaq:
• Keikhlasan dalam hidup berarti berserah diri pada hukum-hukum Allah sambil berusaha mendapatkan yang terbaik, itulah prinsip hidup sebagai seorang hamba Tuhan yang baik (abdillah).
• Dengan ikhlas hidup akan terasa lebih bermakna dan akan menjadi nilai lebih karena dapat memberikan makna yang sama buat orang lain.
Jumaat, 29 April 2011
PENCUCI MOBIL
OLEH: DASRIELNOEHA
Sebelum harga tiket pesawat diturunkan harganya oleh perusahaan penerbangan yang sedang berkompetisi dengan perang tariff murah, perjalanan dari Padang ke Jakarta pulang pergi biasanya menggunakan bis. Tarifnya sekitar Rp 250,000 sekali jalan. Lama perjalanan sekitar dua hari. Perjalanan yang jauh itu memang melelahkan. Biasanya bis berhenti di tempat peristirahatan yang ada rumah makannya atau restoran Padang. Sekalian penumpang pergi ke toilet, mandi, makan, dan sopir bisa istirahat tidur barang sejam. Dan bis biasanya di cuci oleh para pencuci yang tersedia di sana.
Disebuah tempat perhentian mobil dan bis yang ramai karena disana terkenal banyak airnya dan jernih, ada seorang bapak separoh baya yang kerjaannya mencuci bis dan mobil lain yang brehenti di rumah makan disitu. Tiap hari ia lakukan pekerjaan itu. Ia bersama tiga orang pemuda merupakan pencuci mobil yang telah dikenal para sopir disitu. Seakan ada pembagian tugas, kalau bis dikerjakan oleh ketiga pemuda tersebut, dan mobil kecil atau mobil pribadi dicuci oleh bapak tersebut.
Namun sewaktu shalat shubuh di mushala disamping rumah makan ia selalu shalat tepat pada waktunya. Ia menjadi imam yang makmumnya semua penumpang dan penduduk sekitar.
Suatu hari seorang laki-laki gagah dan isterinya turut shalat dan menjadi makmun. Rupanya mereka adalah dua suami isteri yang pulang kampung dari Jakarta dengan mengendarai mobil sendiri sebuah mercedez seri E-300 SE, bewarna putih mengkilat. Mobil itu barusan selesai dicuci oleh si bapak tukang cuci mobil tersebut. Sang suami terkejut dan ia sangat terkesan dengan bacaan imam yang lancar, merdu dan bersih, sehingga sang laki-laki meneteskan air mata dalam shalatnya. Sehabis shalat ia mengamit isterinya. Isterinya datang mendekat.
“Ma, kalau tidak salah yang menjadi imam adalah bapak yang mencuci mobil kita tadi ya”, katanya setengah berbisik ke isterinya.
“Ah, masak”, kata isterinya tidak percaya.
“Iya, kelihatannya beliau, coba perhatikan”.
Mereka berdua memperhatikan si imam yang masih asyik berzikir di depan. Ia membelakangi mereka. Ia telah memakai baju koko putih dengan kopiah haji putih dan memakai kain sarung hitam. Pada mulanya isterinya tidak percaya, karena yang mencuci mobil mereka adalah seorang lelaki tua yang memakai celana sebetis dan kaos hitam, dan kopiah yang hitam juga. Pagi itu masih samar-samar kira-kira jam setengah enam. Para makmum telah meninggalkan mushala itu dan telah menuju warung untuk memesan kopi atau nasi goreng. Ada juga yang memesan ketupat sayur gulai paku yang menjadi spesifik restoran Padang di perhentian bis itu. Makan ketupat sayur dengan mendaruk kerupuk jangek atau kerupuk kulit khas Minang dan menghirup segelas kopi di pagi itu memang nikmat sekali. Apalagi udara pegunungan yang berembus sepoi dan agak dingin menerbitkan selera penumpang bis. Di situ berhenti sekitar sepuluh bis, dan belasan mobil pribadi silih berganti. Ada yang ke Jakarta dan ada yang menuju Padang dari Jakarta.
”Apa betul ya pa, itu beliau.
“Coba saya akan panggil bapak itu”.
“Tunggu ia selesai zikir pa”.
Kemudian si suami memanggil bapak itu.
“Pak, mohon maaf, saya mau bertanya”, katanya sambil beringsut kesamping si imam.
”Oh ya ada apa pak?”
“Mmm, apa tadi bapak yang mencuci mobil saya ya”.
“Mobil bapak yang mercedez warna putih itu?”
“Iya pak”, yang saya parkir disamping bis ALS”.
“Ya saya yang mencucinya, dan sudah selesai pak. Cuma angin bannya sebelah kiri depan agak kurang, saya lihat. Nanti bapak bisa pompa di tukang ban di sudut tempat parkir. Disitu ada keponakan saya yang jadi montirnya. Cek semua tekanan ban pak. Kan bapak sudah menempuh perjalanan jauh, lebih baik cek ulang ban. Murah aja pak, cuma lima ribu saja satu mobil.
“Ya, baiklah pak nanti saya periksa dan pompakan bannya.
“Pak, mohon maaf saya, saya sungguh terkesan dengan bacaan shalat bapak. “Apa Bapak selalu jadi imam shalat shubuh disini?
”Iya pak.
”Terus bapak juga menjadi pencuci mobil disini. Sudah lama bapak menjadi tukang cuci mobil?
“Kira-kira baru satu setengah tahun ini, sejak saya pensiun dan menetap di kampung saya ini”.
“Sebelumnya bapak kerja dimana?
Kemudian dengan malu-malu Pak Ahmad, menceritakan nasibnya, bahwa ia hanya seorang pensiunan pegawai Balaikota DKI yang pulang kampung dan sekarang hidup di desa ini sambil siangnya kesawah dan malam hari mencuci mobil yang berhenti di rumah makan. Dulu semasa di Jakarta ia punya rumah kecil yang dicicil dan setelah pensiun ia jual dan ditabung buat biaya kuliah dua anak di perguruan tinggi di ibukota. Dan bersama isterinya ia balik ke kampung di Sumatera Barat.
Berhubung mereka membutuhkan biaya yang banyak, makanya ia bekerja dengan keras untuk mereka dan makannya suami isteri. Isterinya malam hari mengajar ngaji ibu-ibu di kampung sini.
“Begitulah pak, saya bekerja sambil berdo’a supaya badan tetap sehat, dan diusahakan jangan sakit. Kalau sakit biayanya mahal sekali pak, sedangkan saya telah pensiun”.
Setelah mendengar cerita si bapak tukang cuci mobil itu, sang laki-laki menawarkan pada Pak Ahmad kalau ia mau pindah ke Padang untuk diangkat menjadi kepala gudang di Telukbayur dan Kepala Bengkel dengan tugas mengontrol para pekerja dan mekanik di pool. Sang lelaki rupanya punya perusahaan ekspor hasil bumi dan bengkel mobil di Padang dan hari itu ia pulang kampung untuk melihat perkembangn usahanya dan sekalian melihat peluang usaha baru. Dan kebetulan juga ia mendapat laporan dari sekretaris perusahaan bahwa kepala gudang sekarang orangnya kurang jujur dan malas serta sering tidak masuk kerja. Ganti saja pak dengan orang yang lebih baik, demikian nasihat sekretaris itu.
Di Jakarta ia adalah juga punya usaha ekspor dan logistik.
“Apa saya sanggup ya pak”.
“Saya percaya bapak sanggup, bagaimana apa bapak bersedia. Nanti bapak boleh pulang setiap dua hari seminggu kesini lihat ibu, dan bapak juga boleh sekali-kali bawa ibu ke Padang. Di gudang juga ada kamar kosong bisa ditempati. Nanti saya akan suruh orang untuk membersihkan”
Pak Ahmad lalu sujud dan air matanya meleleh, dan sambil menyalami tangan laki-laki itu ia berdo’a, “Ya Allah, terima kasih atas rejeki-Mu yang engkau limpahkan melalui tangan laki-laki didepan hamba ini”, Engkau anugerahkanlah keselamatan kepada orang ini, dan Engkau berkatilah jalanku”, Amin.
“Baik pak saya bersedia, tapi tolong ajarin saya tentang apa yang saya harus kerjakan”.
“Ya, nanti sekretaris saya akan mengajari bapak, kerjanya tidak susah kok”.
“Pak ini buat bapak dan ibu, sekalian buat ongkos bapak ke Padang”, kata isteri saya sambil menyodorkan beberapa lembar uang ke tangan si imam.
“Bu, jangan bu, ini banyak sekali”.
”Ah, bapak terima saja, sekalian sampaikan salam kenal saya sama ibu, nanti saya akan belajar ngaji dengan beliau”, kata isteri saya lagi.
”Terimalah pak, kalau bisa bapak ke Padang sore nanti, atau besok pagi, biar saya kenalkan dengan pegawai saya di sana”, kata sang lelaki.
”Baik, pak saya akan usahakan sore ini juga”.
Sang lelaki dan isterinya beranjak ke warung. Mereka merasa bahagia sekali pagi itu. Mereka menemukan seorang lelaki yang baik dan jujur. Mereka duduk dimeja disudut. Mereka melihat Pak Ahmad berbicara dengan seorang anak muda di tempat tempel ban. Mungkin ia mengatakan kepada ponakannya itu, agar memeriksa ban mobil mercedez putih dengan benar. Karena pemiliknya adalah seorang malaikat yang diutus Tuhan untuk memperbaiki hidup mereka. Ia melihat si pemuda mengnganggu sambil menoleh ke warung.
”Saya serasa melihat Bapak di wajah pak imam tadi”, kata silelaki pada isterinya.
”Iya pak, saya juga, kelembutan matanya mengingatkan saya kepada beliau”, kata isterinya.
Rupanya ayah dari si lelaki sudah meninggal beberapa tahun lalu.
”Ma, rupanya Tuhan Maha Besar, Ia telah memeprtemukan kita dengan orang yang baik diantara banyak orang yang tidak baik di dunia ini.
”Saya mau memesan ketupat sayur, mama mau pesan apa?
”Saya mau pesan soto, sudah lama saya tidak merasakan gurihnya goreng daging soto Padang”.
”Bu, saya pesan ketupat sayur, dan isteri saya ini mau soto. Tolong sekalian kerupuk jangek ya bu”.
”Baik, pak, bu, tunggu sebentar ya”.
Mereka makan dengan lahap sekali. Karena pagi itu mereka beroleh berkah dari Tuhan.
Sejak itu Pak Ahmad pindah ke Padang dan tugas mencuci mobil dilanjutkan oleh keponakannya yang kebetulan ada dikampung menjadi ketua pemuda disana. Ia sekarang menjadi Kepala Gudang perusahaan si bapak yang kebetulan mampir di tempat peristirahatan mobil itu. Allah menyuruh seorang laki-laki kaya yang punya mercedez untuk berhenti disitu. Karena ada hambanya yang pandai bersyukur dan hidup jujur serta penuh kepasrahan kepada-Nya sedang mengais rejeki dengan hanya menjadi pencuci mobil. Namun ia juga seorang khalifah-Nya yang menjadi imam shalat di waktu shubuh. Ia telah di beri karunia oleh Allah karena kepasrahannya dalam hidup namun tetap berjuang sesuai perintah-Nya melalui tangan seorang pemilik perusahaan impor-ekspor dan logstik yang kebetulan pagi itu menjadi makmun dalam shalat shubuh yang ia imami.
Aku kutipkan ayat AlQur’an dibawah ini:
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan walau sebesar zarrah (atom)pun, niscaya dia akan melihat balasannya,
Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan walau sebesar zarrah (atom)pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula, (Al Zalzalah ayat 7,8).
Sebelum harga tiket pesawat diturunkan harganya oleh perusahaan penerbangan yang sedang berkompetisi dengan perang tariff murah, perjalanan dari Padang ke Jakarta pulang pergi biasanya menggunakan bis. Tarifnya sekitar Rp 250,000 sekali jalan. Lama perjalanan sekitar dua hari. Perjalanan yang jauh itu memang melelahkan. Biasanya bis berhenti di tempat peristirahatan yang ada rumah makannya atau restoran Padang. Sekalian penumpang pergi ke toilet, mandi, makan, dan sopir bisa istirahat tidur barang sejam. Dan bis biasanya di cuci oleh para pencuci yang tersedia di sana.
Disebuah tempat perhentian mobil dan bis yang ramai karena disana terkenal banyak airnya dan jernih, ada seorang bapak separoh baya yang kerjaannya mencuci bis dan mobil lain yang brehenti di rumah makan disitu. Tiap hari ia lakukan pekerjaan itu. Ia bersama tiga orang pemuda merupakan pencuci mobil yang telah dikenal para sopir disitu. Seakan ada pembagian tugas, kalau bis dikerjakan oleh ketiga pemuda tersebut, dan mobil kecil atau mobil pribadi dicuci oleh bapak tersebut.
Namun sewaktu shalat shubuh di mushala disamping rumah makan ia selalu shalat tepat pada waktunya. Ia menjadi imam yang makmumnya semua penumpang dan penduduk sekitar.
Suatu hari seorang laki-laki gagah dan isterinya turut shalat dan menjadi makmun. Rupanya mereka adalah dua suami isteri yang pulang kampung dari Jakarta dengan mengendarai mobil sendiri sebuah mercedez seri E-300 SE, bewarna putih mengkilat. Mobil itu barusan selesai dicuci oleh si bapak tukang cuci mobil tersebut. Sang suami terkejut dan ia sangat terkesan dengan bacaan imam yang lancar, merdu dan bersih, sehingga sang laki-laki meneteskan air mata dalam shalatnya. Sehabis shalat ia mengamit isterinya. Isterinya datang mendekat.
“Ma, kalau tidak salah yang menjadi imam adalah bapak yang mencuci mobil kita tadi ya”, katanya setengah berbisik ke isterinya.
“Ah, masak”, kata isterinya tidak percaya.
“Iya, kelihatannya beliau, coba perhatikan”.
Mereka berdua memperhatikan si imam yang masih asyik berzikir di depan. Ia membelakangi mereka. Ia telah memakai baju koko putih dengan kopiah haji putih dan memakai kain sarung hitam. Pada mulanya isterinya tidak percaya, karena yang mencuci mobil mereka adalah seorang lelaki tua yang memakai celana sebetis dan kaos hitam, dan kopiah yang hitam juga. Pagi itu masih samar-samar kira-kira jam setengah enam. Para makmum telah meninggalkan mushala itu dan telah menuju warung untuk memesan kopi atau nasi goreng. Ada juga yang memesan ketupat sayur gulai paku yang menjadi spesifik restoran Padang di perhentian bis itu. Makan ketupat sayur dengan mendaruk kerupuk jangek atau kerupuk kulit khas Minang dan menghirup segelas kopi di pagi itu memang nikmat sekali. Apalagi udara pegunungan yang berembus sepoi dan agak dingin menerbitkan selera penumpang bis. Di situ berhenti sekitar sepuluh bis, dan belasan mobil pribadi silih berganti. Ada yang ke Jakarta dan ada yang menuju Padang dari Jakarta.
”Apa betul ya pa, itu beliau.
“Coba saya akan panggil bapak itu”.
“Tunggu ia selesai zikir pa”.
Kemudian si suami memanggil bapak itu.
“Pak, mohon maaf, saya mau bertanya”, katanya sambil beringsut kesamping si imam.
”Oh ya ada apa pak?”
“Mmm, apa tadi bapak yang mencuci mobil saya ya”.
“Mobil bapak yang mercedez warna putih itu?”
“Iya pak”, yang saya parkir disamping bis ALS”.
“Ya saya yang mencucinya, dan sudah selesai pak. Cuma angin bannya sebelah kiri depan agak kurang, saya lihat. Nanti bapak bisa pompa di tukang ban di sudut tempat parkir. Disitu ada keponakan saya yang jadi montirnya. Cek semua tekanan ban pak. Kan bapak sudah menempuh perjalanan jauh, lebih baik cek ulang ban. Murah aja pak, cuma lima ribu saja satu mobil.
“Ya, baiklah pak nanti saya periksa dan pompakan bannya.
“Pak, mohon maaf saya, saya sungguh terkesan dengan bacaan shalat bapak. “Apa Bapak selalu jadi imam shalat shubuh disini?
”Iya pak.
”Terus bapak juga menjadi pencuci mobil disini. Sudah lama bapak menjadi tukang cuci mobil?
“Kira-kira baru satu setengah tahun ini, sejak saya pensiun dan menetap di kampung saya ini”.
“Sebelumnya bapak kerja dimana?
Kemudian dengan malu-malu Pak Ahmad, menceritakan nasibnya, bahwa ia hanya seorang pensiunan pegawai Balaikota DKI yang pulang kampung dan sekarang hidup di desa ini sambil siangnya kesawah dan malam hari mencuci mobil yang berhenti di rumah makan. Dulu semasa di Jakarta ia punya rumah kecil yang dicicil dan setelah pensiun ia jual dan ditabung buat biaya kuliah dua anak di perguruan tinggi di ibukota. Dan bersama isterinya ia balik ke kampung di Sumatera Barat.
Berhubung mereka membutuhkan biaya yang banyak, makanya ia bekerja dengan keras untuk mereka dan makannya suami isteri. Isterinya malam hari mengajar ngaji ibu-ibu di kampung sini.
“Begitulah pak, saya bekerja sambil berdo’a supaya badan tetap sehat, dan diusahakan jangan sakit. Kalau sakit biayanya mahal sekali pak, sedangkan saya telah pensiun”.
Setelah mendengar cerita si bapak tukang cuci mobil itu, sang laki-laki menawarkan pada Pak Ahmad kalau ia mau pindah ke Padang untuk diangkat menjadi kepala gudang di Telukbayur dan Kepala Bengkel dengan tugas mengontrol para pekerja dan mekanik di pool. Sang lelaki rupanya punya perusahaan ekspor hasil bumi dan bengkel mobil di Padang dan hari itu ia pulang kampung untuk melihat perkembangn usahanya dan sekalian melihat peluang usaha baru. Dan kebetulan juga ia mendapat laporan dari sekretaris perusahaan bahwa kepala gudang sekarang orangnya kurang jujur dan malas serta sering tidak masuk kerja. Ganti saja pak dengan orang yang lebih baik, demikian nasihat sekretaris itu.
Di Jakarta ia adalah juga punya usaha ekspor dan logistik.
“Apa saya sanggup ya pak”.
“Saya percaya bapak sanggup, bagaimana apa bapak bersedia. Nanti bapak boleh pulang setiap dua hari seminggu kesini lihat ibu, dan bapak juga boleh sekali-kali bawa ibu ke Padang. Di gudang juga ada kamar kosong bisa ditempati. Nanti saya akan suruh orang untuk membersihkan”
Pak Ahmad lalu sujud dan air matanya meleleh, dan sambil menyalami tangan laki-laki itu ia berdo’a, “Ya Allah, terima kasih atas rejeki-Mu yang engkau limpahkan melalui tangan laki-laki didepan hamba ini”, Engkau anugerahkanlah keselamatan kepada orang ini, dan Engkau berkatilah jalanku”, Amin.
“Baik pak saya bersedia, tapi tolong ajarin saya tentang apa yang saya harus kerjakan”.
“Ya, nanti sekretaris saya akan mengajari bapak, kerjanya tidak susah kok”.
“Pak ini buat bapak dan ibu, sekalian buat ongkos bapak ke Padang”, kata isteri saya sambil menyodorkan beberapa lembar uang ke tangan si imam.
“Bu, jangan bu, ini banyak sekali”.
”Ah, bapak terima saja, sekalian sampaikan salam kenal saya sama ibu, nanti saya akan belajar ngaji dengan beliau”, kata isteri saya lagi.
”Terimalah pak, kalau bisa bapak ke Padang sore nanti, atau besok pagi, biar saya kenalkan dengan pegawai saya di sana”, kata sang lelaki.
”Baik, pak saya akan usahakan sore ini juga”.
Sang lelaki dan isterinya beranjak ke warung. Mereka merasa bahagia sekali pagi itu. Mereka menemukan seorang lelaki yang baik dan jujur. Mereka duduk dimeja disudut. Mereka melihat Pak Ahmad berbicara dengan seorang anak muda di tempat tempel ban. Mungkin ia mengatakan kepada ponakannya itu, agar memeriksa ban mobil mercedez putih dengan benar. Karena pemiliknya adalah seorang malaikat yang diutus Tuhan untuk memperbaiki hidup mereka. Ia melihat si pemuda mengnganggu sambil menoleh ke warung.
”Saya serasa melihat Bapak di wajah pak imam tadi”, kata silelaki pada isterinya.
”Iya pak, saya juga, kelembutan matanya mengingatkan saya kepada beliau”, kata isterinya.
Rupanya ayah dari si lelaki sudah meninggal beberapa tahun lalu.
”Ma, rupanya Tuhan Maha Besar, Ia telah memeprtemukan kita dengan orang yang baik diantara banyak orang yang tidak baik di dunia ini.
”Saya mau memesan ketupat sayur, mama mau pesan apa?
”Saya mau pesan soto, sudah lama saya tidak merasakan gurihnya goreng daging soto Padang”.
”Bu, saya pesan ketupat sayur, dan isteri saya ini mau soto. Tolong sekalian kerupuk jangek ya bu”.
”Baik, pak, bu, tunggu sebentar ya”.
Mereka makan dengan lahap sekali. Karena pagi itu mereka beroleh berkah dari Tuhan.
Sejak itu Pak Ahmad pindah ke Padang dan tugas mencuci mobil dilanjutkan oleh keponakannya yang kebetulan ada dikampung menjadi ketua pemuda disana. Ia sekarang menjadi Kepala Gudang perusahaan si bapak yang kebetulan mampir di tempat peristirahatan mobil itu. Allah menyuruh seorang laki-laki kaya yang punya mercedez untuk berhenti disitu. Karena ada hambanya yang pandai bersyukur dan hidup jujur serta penuh kepasrahan kepada-Nya sedang mengais rejeki dengan hanya menjadi pencuci mobil. Namun ia juga seorang khalifah-Nya yang menjadi imam shalat di waktu shubuh. Ia telah di beri karunia oleh Allah karena kepasrahannya dalam hidup namun tetap berjuang sesuai perintah-Nya melalui tangan seorang pemilik perusahaan impor-ekspor dan logstik yang kebetulan pagi itu menjadi makmun dalam shalat shubuh yang ia imami.
Aku kutipkan ayat AlQur’an dibawah ini:
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan walau sebesar zarrah (atom)pun, niscaya dia akan melihat balasannya,
Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan walau sebesar zarrah (atom)pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula, (Al Zalzalah ayat 7,8).
AYAHKU TELAH PERGI
OLEH: DASRIELNOEHA
Melepas kepergian ayah yang aku cintai.
Ayah yang aku sayangi
Ayahku meninggal tanggal 27 July tahun 1996 dalam usia 69 tahun. Ia lahir tahun 1927, disebuah kampung kecil bernama Kandangampek di Sumatera Barat.
Ini tanggal bersejarah dalam kehidupanku. Karena hari itu aku kehilangan orang yang aku cintai dan aku hormati. Ayahku yang mengajarkan aku anaknya yang paling tua untuk hidup dengan berjuang.
Hidup ini penuh perjuangan anakku, suatu hari ayah menasihatiku, sewaktu aku lulus SD dan ia masih tentara waktu itu. Oleh karena itu hidup tidak boleh malas. Nasihatnya ini selalu aku ingat dan aku camkan. Inilah pemicu semangat waktu aku bekerja.
Ayah yang jadi tentara sejak jaman Jepang. Ia dan empat saudaranya laki-laki semuanya masuk menjadi tentara. Yang bungsu menjadi polisi dan disekolahkan ke Sekolah Polisi Sukabumi. Ayah menjadi infanteri bersama kakaknya. Kakaknya meninggal dalam kedinasan. Sedangkan adiknya polisi meninggal di Jakarta saat ada pertemuan di Markas Kepolisian Jakarta. Sedangkan tugasnya terakhir di Kupang Timor.
Namun, aku ingat aku test masuk ke Akabri tahun 1971 setelah lulus SMA, ayah tidak mengijinkan. Ia tidak mau aku mati tertembak di medan pertempuran. Aneh, padahal ia sendiri seorang tentara. Ia mau aku menjadi seorang insinyur, agar ibuku yang miskin bisa terbantu. Karena gaji insinyur lebih besar dari gaji seorang tentara, demikian kata ayahku.
Pada saat aku bekerja di Balikpapan, Kalimantan Timur pada sebuah perusahaan perminyakan, kira-kira jam sepuluh pagi tanggal 23 July, 1996, ada telpon dari Uni Nen kakak isteriku di Padang, yang mengabarkan ayah saya sakit dan sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit Yarsi Padangpanjang. Uni Nen mengatakan ayah meminta saya supaya pulang.
Pada saat itu saya merasakan ada perasaan risau dihatiku. Pada hal sebulan yang lalu ada telpon dari adikku yang nomor tiga mengatakan ayah sakit, aku biasa-biasa saja. Namun sekarang perasaanku tidak enak. Aku memberi tahu bagian personalia perusahaan, bahwa aku harus ke Padangpanjang melihat ayahku yang sedang sakit. Hari itu juga aku mencari tiket pesawat Balikpapan-Jakarta-Padang. Aku berangkat sendiri, karena isteriku harus menjaga anak-anakku di Balikpapan.
Jam lima sore dengan taksi dari Pelabuhan Udara Tabing Padang aku sampai di rumah sakit Yarsi di Padangpanjang. Aku dapati ibuku, adikku Yasril yang nomor tiga, adikku Nusyirwan yang nomor empat atau yang bungsu, sedang duduk disamping ayahku yang terbaring antara sadar dengan tidak. Melihat aku datang, ibuku membisikkan ketelinga ayah. Aku lihat beliau membuka matanya. Ia berkata lemah; ”Anakku telah datang, kenapa telat nak? ”Yah aku menempuh perjalanan dengan berganti pesawat, bagaimana keadaan ayah?, tanyaku. Kulihat ia tersenyum. ”Ayah sudah shalat?, tanyaku.
”Ayah belum shalat ashar”, kata ibu.
”Yah, kataku mari kita shalat, aku akan mengambil udhuk dulu”, kataku.
Selesai mengambil udhuk aku mendekati ayah, dan aku berbisik ketelinganya.
”Yah, ikuti aku shalat, ayah gerakkan mata ayah saja, aku akan jadi imam”, kataku.
Aku ingat dulu waktu aku masih di SMP aku sering diajarkan kakek jadi imam, dan ayah serta kakek jadi makmumku. Untuk latihan kata kakek.
Aku shalat ashar disamping ranjangnya. Sambil aku berdo’a, ”Ya Allah kuatkan ayahku untuk shalat bersamaku. Ijinkan ia shalat sambil berbaring dalam sakitnya. Ia sedang sakit Ya Allah. Kalau engkau ijinkan ia sembuh, maka sembuhkanlah ia, namun, bila Engkau takdirkan ia harus segera menghadap-Mu, kembalikanlah ia kepada Engkau dalam keadaan husnul khatimah”.
Selesai berdo’a aku usap wajahnya. Aku urut kakinya, dan aku rasakan kakinya telah mulai dingin. Tidurlah yah bisikku. Ibuku mencoba meneteskan bubur kebibirnya yang cenderung terkatup, ia telan sedikit, dan sisanya meleleh kembali keluar bibirnya. Ayahku rupanya sudah lemah badannya.
Aku tanya ibu, apa yang diderita ayah sebelum masuk rumah sakit. Ibu bilang dua hari yang lalu ayah mengeluh badannya lemah dan selera makannya patah. Dia tidak mau makan, dan ibu merasakan badannya panas. Dan langsung dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit ayah di periksa dan dokter memutuskan ayah harus transfusi darah karena Hbnya turun banyak. Keesokan harinya ayah membaik dan ia bisa jalan dengan dibimbing ibu ke mushala belakang untuk shalat. Namun malam kemaren kembali ayah melemah dan kembali dipasang slang transfusi dan infus. Aku paham bahwa organ dalam ayahku kelihatannya mulai kehilangan fungsinya. Apakah karena umur ayah yang tua? Rasanya belum tua benar. Umur ayah tahun ini adalah 69 tahun. Tapi aku kembali teringat bahwa dalam AlQur’an Allah mengatakan bahwa soal umur tidak bisa diatur manusia, hanya Allah yang Maha Kuasa. Umur seseorang bisa panjang bisa pendek tergantung ajalnya atau masa tempuhnya di dunia yang juga Allah yang Menentukan. Rupanya masa perjalanan ayahku di dunia ini mendekati selesai. Jadi ia kemungkinan sedang dalam proses kembali ke Tuhan.
Jam enam aku temui dokter jaga rumah sakit untuk menanyakan bagaimana sakit ayahku. Dokter mengatakan, bahwa ayah lemah dan organ dalamnya juga lemah. Sudah dicoba untuk transfusi darah, karena Hbnya turun. Aku tanyakan apakah bisa dibawa ke rumah sakit yang lebih besar supaya bisa dirawat lebih intensif, ke Padang atau ke Jakarta misalnya. Dokter bilang kita coba dulu merawat pak, kalau keadaannya agak kuat bisa kita bawa. Sekarang beliau lemah sekali.
Pada keesokan harinya keadaan ayah tidak membaik juga. Aku menasihati ibuku supaya bersabar dan merelakan bila ayah memang akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Ibuku hanya diam, namun air mata meleleh dipipinya. Aku tahu ibuku sangat mencintai ayahku. Ibuku kawin masih sangat muda dengan ayahku. Ibu baru berusia lima belas waktu tahun 1950 mereka menikah, dan ayah sudah berusia 23 tahun dan menjadi tentara muda yang gagah. Ia disuruh pulang kampung oleh komandannya waktu itu untuk segera beristeri agar bisa menemani ayah yang bertugas di Bengkalis Kepulauan Riau. Setahun kemudian pada tahun 1951 bulan Nopember lahirlah anak mereka seorang bayi laki-laki yang cakap sekali kata ibuku. Bayi itu adalah aku anak pertama mereka. Sejak saat itu ibuku selalu ikut kemanapun ayah pergi. Mereka pindah-pindah tempat sesuai kemana ayah ditugaskan. Ayah dan ibuku tidak pernah berpisah.
Malam harinya saya, ibu, adikku yang bungsu, kami membaca surat yasiin untuk mendo’akan kesembuhan ayah.
Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di teras rumah sakit. Banyak orang menggotong orang-orang yang luka-luka. Aku keluar dan menanyakan ke seorang perawat, ada apa sebenarnya. Ada kecelakaan di Batipuh pak, kira-kira 10 kilo kearah Timur Padangpanjang. Sebuah bis antarkota, menabrak tiang jembatan dan terjun kesungai. Ada yang mati, dan banyak yang luka-luka. Sebagian yang luka dibawa ke RSU dan sebagian ke Yarsi.
Malam itu aku ikut membantu merawat para penumpang yang luka, ada sekitar lima belas orang, mereka dibaringkan saja di lantai, karena Yarsi rumah sakit kecil ini kehabisan tempat tidur.
Tengah malam aku sudah kelelahan dan aku mencari penginapan, untuk istirahat.
Paginya, aku kembali ke rumah sakit untuk melihat ayah. Keadaan ayah makin buruk. Ia kehilangan kesadaran. Dan slang transfusinya telah dicabut dokter, karena pembuluh darahnya mengecil dan cenderung darah tidak mau masuk lagi. Sedangkan slang infus masih jalan. Aku raba kaki ayah. Kakinya benar-benar telah dingin. Aku tahu ayahku sedang menghadapi kematiannya. Aku kembali berdo’a pada Allah agar diberikan kemudahan jalan bagi ayahku untuk pergi.
Jam sembilan malam kurang sedikit, setelah aku ajak ayah dengan berbisik untuk shalat isya, aku lihat ayah tersenyum, tangannya menggapai sesuatu. Oleh ibuku diangsurkan kopiah putih hajinya kekepalanya. Tangannya kembali diam. Ayahku bersama ibu sempat pergi menunaikan ibadah haji pada tahun 1993. Waktu enam bulan keberangkatan, ibu menelpon ke Balikpapan. Ia mengabarkan kalau ayah juga ingin pergi bersama ibu ke Mekah. Sekarang ayah mulai sakitan. Namun, kata ibu setelah diperiksa kerumah sakit, dokter mengatakan bahwa ayah cukup kuat untuk berangkat haji tahun ini. Ibu menanyakan kalau aku ada uang untuk membiayai ayah sekalian alangkah senangnya hatinya. Dengan gembira aku jawab, ”Tolong katakan pada ayah, bahwa aku akan segera kirim biaya. Berangkatlah ibu berdua ayah”, kataku.
Dirumah aku diskusikan dengan isteriku menyangkut telpon ibu. Isteriku mengatakan, segera kirim uang ke Padang, kapan lagi kita menyenangkan hati orang tua kita, demikian kata isteriku menegaskan. Aku mengucapkan terima kasih atas persetujuan isteriku. Demikianlah rupanya selama melaksanakan rukun haji ayah sehat-sehat saja. Sejak saat itu ayah tidak pernah melepaskan kopiah hajinya. Rupanya pada saat terakhirnya ini beliau juga mau mengenakan kembali kopiahnya.
Aku melihat napas ayah sudah dilehernya. Aku bisikkan kalimah shahadat ketelinganya. Dan ia tersenyum. Dan napas terakhir itu keluar dari bibirnya yang masih tersenyum. Lalu ia diam untuk selama-lamanya. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun. Ayahku telah tiada rupanya. Hari ini tanggal 27 Juni tahun 1996. Aku tutupkan kedua mata ayah, dan kedua tangannya aku lipatkan kedadanya. Aku berbisik, pergilah dengan tenang ayah yang kami cintai, pergilah engkau pahlawan keluarga, maafkanlah segala kesalahan kami, terutama aku yah, aku anakmu yang pertama, kalaulah aku tidak sempat menyenangkanmu, kalau aku kurang berbakti kepadamu, dan selama ini aku selalu jauh dari ayah, dan kurang memperhatikan ayah, maafkan aku ya yah. Pergilah ayah dengan damai. Temuilah Tuhan dengan senyum wahai ayahku tercinta. Tidak terasa air mata meleleh dipipiku. Aku menggigit bibir menahan kesedihan karena kepergian orang yang aku sayangi, orang yang aku hormati, ayah yang aku banggakan.
Aku lihat ibu terisyak. Ia menahan tangisnya. Ibu mencium pipi ayah.
”Uda, maafkan awak. Kalau awak banyak berdosa pada uda, maafkanlah awak ya da. Uda sudah awak maafkan, walau awak tahu uda tidak ada salah pada awak, ataupun pada orang lain. Uda orang baik di masyarakat”.
Lalu ibuku menangis. Kecintaannya yang terbawa ayah yang telah pergi tidak kuasa ia tahan di dadanya. Kesedihannya ia tumpahkan dalam tangisan di kamar rumah sakit Yarsi Padangpanjang.
”Pak, maafkan Wan ya pak, awak banyak bersalah pada apak, maafkan Wan pak”, kata adikku yang bungsu dalam tangisannya. Kami memanggil apak pada ayah kami.
Kemudian aku mencari dokter. Rupanya ia telah pulang. Aku menemui kepala perawat. Aku mengabarkan bahwa ayahku telah tiada jam sembilan tepat tadi. Perawat itu datang ke kamar. Ia menyenter mata ayah yang sudah tidak berkedip lagi. Memang, ayah telah pergi katanya. Lalu ia kekantor untuk membuat surat kematian. Aku menanyakan ambulan untuk membawa ayah pulang ke Kandangampek, kira-kira dua belas kilometer kerah selatan PadangPanjang. Kebetulan ambulan lagi terpakai. Setelah menyelesaikan pembayaran rumah sakit, baru tiga jam kemudian, dengan ambulan rumah sakit, kira-kira jam duabelas tengah malam jenazah ayah kami bawa pulang.
Jam satu tengah malam jenazah ayah sampai di rumah disambut oleh tangisan adikku perempuan Dadiarti dan Yasril.
Menyiapkan pekuburan
Dinihari itu saya dan adik-adik dengan dibantu oleh tetangga, kami menyiapkan penyelenggaran penguburan ayah kami.
Rumah ibu saya yang sempat saya renovasi ukurannya kecil. Sekarang rumah ini terasa sempit dengan kedatangan tetangga untuk melayat jenazah ayah.
Sebagian mereka membantu segala sesuatu yang perlu dikerjakan. Semangat gotong royong di kampung kami ini masih terasa kental. Apalagi kebanyakan mereka juga saudara dan tetangga dekat.
Sehabis shalat shubuh, saudara-saudara kami, Pudin, uda Tius, Win suami adik saya, dan beberapa pemuda pergi menggali kuburan di bukik Rambai tempat pekuburan keluarga kami. Di Bukik Rambai banyak di kuburkan nenek, kakek, bapak, ibu dan saudara yang telah mendahului menghadapnya dikuburkan. Disana dikuburkan nenekku yang aku panggil Amak, Darama namanya. Juga kakak nenek yang aku panggil Mak Ayang, Ramalah namanya. Juga kakak Mak Ayang yang aku panggil Nek Tuo Tan. Juga di sana dikuburkan kakak mereka Datuak Rajo Khatib Tuo. Ada kuburan Inyiak, kuburan gaek Lenggang, kuburan Tuo Ana, kuburan uda Nipon Ketek, pak tuo Aripin, kuburan Darnalis anak Tuo Ana, kuburan si ’Ai, adik Darnalis yang meninggal ketika masih sekolah SD. Ada juga kuburan adikku Syafril yang meninggal karena infeksi diarhea berat waktu masih berumur tiga tahun, dan kuburan lainnya.
Kuburan untuk ayah digali persis disamping kuburan nenek.
Jam tujuh pagi saya, Yasril, Wan, dan seorang kakak isteri saya yang bernama Uda Ambo, kami memandikan ayah. Kami bersihkan tubuh beliau untuk terakhir kalinya, sambil berdoa pada Allah agar dosanya diampuni dan arwahnya diterima Disisi-Nya.
Ibu duduk disamping saya, ia ikut menggosok tubuh ayah.
”Tek Nian (aku memanggil etek pada ibu, kebiasaan sejak kecil) jangan menangis, relakan kepergian apak”, kataku.
Jam setengah sembilan, jenazah selesai kami bungkus atau dikapani dengan kain putih. Jenazah diletakkan di ruang tengah untuk memberi kesempatan pelayat melihat ayah terakhir kalinya. Banyak yang datang, karena beliau banyak punya teman sampai kedesa tetangga Kayutanam. Bekas teman-temannya seperjuangan dulu yang masih hidup pada berdatangan. Kira-kira jam sebelas kuburan sudah siap digali.
Tiba-tiba sebuah bis berhenti di depan rumah. Rupanya isteri saya telah datang dari Balikpapan. Karena kemaren malam juga ia saya telpon memberi tahu kalau ayah telah tiada. Ia langsung berlari mendapatkan jenazah ayah yang terbaring di ruang tengah. Ia menangis. Karena ia sangat sayang pada ayah saya. Ayah semasa hidupnya juga sangat sayang pada isteri saya.
”Pak, maafkan kesalahan Idai ya pak, kalau Idai kurang memperhatikan apak, maklum kami jauh. Sekarang apak telah pergi. Cucu apak juga minta dimaafkan. Ma, sampaikan maaf kami pada gaek, kata mereka”.
Anak-anakku yang tiga orang perempuan memanggil gaek pada kakeknya.
Isteriku memberikan sebuah surat ucapan belangsungkawa dari kantorku Total E&P Indonesie Balikpapan yang diberikan pada ibu. Isteriku langsung memeluk ibu. Mereka bertangisan berdua.
Kemudian jenazah diusung ke halaman rumah, untuk upacara pemberangkatan ke mesjid atau mushala tempat ayah sering jadi imam shalat.
Aku mulai berpidato untuk melepas jenazah.
”Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun. Sesungguhnya semua yang bernyawa akan kembali kepada-Nya.
Aku anak ayah yang tertua, dan atas nama keluarga kami, kami mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah bapak/ibu, saudara/saudari berikan selama penyelenggaraan jenazah ayah saya.
Atas nama keluarga, saya menyampaikan maaf dari ayah saya, bila seandainya semasa hidup beliau, beliau ada berbuat keteledoran dan kesalahan baik sengaja maupun yang beliau tidak sengaja, dan mungkin tanpa beliau sadari, telah menyakiti hati bapak/ibu saudara/saudari, saya mohonkan rasa maafnya.
Dan bila ada beliau mempunyai utang yang rasanya belum beliau bayar, mohon ditagihkan kepada saya. Saya mohonkan semua ini agar supaya arwah ayah saya tidak punya beban untuk menghadap hari pengadilan-Nya, supaya ia diterima-Nya. Wassalamulaikum warahmatullahi wa barakatuuh”.
Kemudian jenazah ayah diangkat oleh saudara-saudaranya menuju ke mushala.
Dimushala itu saya bertindak jadi imam shalat jenazah. Dalam bacaan shalat, saya terisak menangis. Terbayang ayah saya ditempat ini jadi imam waktu saya pulang kampung dua tahun lalu. Sekarang ia telah terbujur kaku didepan kami orang yang turut menyalatkan beliau sebelum tubuhnya dikembalikan ketanah tempat asal semua manusia.
Selesai shalat jenazah jenazah diangkat ke kuburan yang berjarak kira-kira lima ratus meter dari situ. Sesampai di Bukik Rambai, jenazah diturunkan. Aku melompat dan turun ke dalam lobang kuburan, aku dan adikku Yasril dan Pudin, menerima jenazah ayah. Aku miringkan wajah beliau ke arah kiblat, karena begitu perintah agama, aku buka ikatan kain kafan, ditutup dengan sehelai papan, dan kemudian pelan-pelan ditimbun dengan tanah. Kembali aku berdo’a dan meminta maaf ke ayah. Aku naik, dan mulailah kami bergantian menimbun lobang kuburan itu sampai selesai. Selesai pulalah tugas ayahku di dunia ini. Ia telah menutup ceritanya di dunia ini sejak tanggal 27 Juni tahun 1996, untuk seterusnya aku lanjutkan karena aku yang kemudian bertanggung jawab kepada keluargaku sebagai anak beliau yang tertua.
Saya, isteri saya, ibu, adik-adik, kami masih tinggal dikuburan kira-kira sejam kemudian. Kami membaca AlQur’an Surat Yasiin yang dipimpin isteriku. Selesai membaca AlQur’an aku memimpin do’a. Dan kembali kami beringsut pulang.
”Yah, Apak, kami pulang, tidurlah dengan tenang, sampai hari kiamat tiba sesuai janji-Nya pada kita.
Assalamualaikum. Dan Bukik Rambaipun kami tinggalkan.
Disana ayah kami tinggalkan buat selamanya.
Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun.
Melepas kepergian ayah yang aku cintai.
Ayah yang aku sayangi
Ayahku meninggal tanggal 27 July tahun 1996 dalam usia 69 tahun. Ia lahir tahun 1927, disebuah kampung kecil bernama Kandangampek di Sumatera Barat.
Ini tanggal bersejarah dalam kehidupanku. Karena hari itu aku kehilangan orang yang aku cintai dan aku hormati. Ayahku yang mengajarkan aku anaknya yang paling tua untuk hidup dengan berjuang.
Hidup ini penuh perjuangan anakku, suatu hari ayah menasihatiku, sewaktu aku lulus SD dan ia masih tentara waktu itu. Oleh karena itu hidup tidak boleh malas. Nasihatnya ini selalu aku ingat dan aku camkan. Inilah pemicu semangat waktu aku bekerja.
Ayah yang jadi tentara sejak jaman Jepang. Ia dan empat saudaranya laki-laki semuanya masuk menjadi tentara. Yang bungsu menjadi polisi dan disekolahkan ke Sekolah Polisi Sukabumi. Ayah menjadi infanteri bersama kakaknya. Kakaknya meninggal dalam kedinasan. Sedangkan adiknya polisi meninggal di Jakarta saat ada pertemuan di Markas Kepolisian Jakarta. Sedangkan tugasnya terakhir di Kupang Timor.
Namun, aku ingat aku test masuk ke Akabri tahun 1971 setelah lulus SMA, ayah tidak mengijinkan. Ia tidak mau aku mati tertembak di medan pertempuran. Aneh, padahal ia sendiri seorang tentara. Ia mau aku menjadi seorang insinyur, agar ibuku yang miskin bisa terbantu. Karena gaji insinyur lebih besar dari gaji seorang tentara, demikian kata ayahku.
Pada saat aku bekerja di Balikpapan, Kalimantan Timur pada sebuah perusahaan perminyakan, kira-kira jam sepuluh pagi tanggal 23 July, 1996, ada telpon dari Uni Nen kakak isteriku di Padang, yang mengabarkan ayah saya sakit dan sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit Yarsi Padangpanjang. Uni Nen mengatakan ayah meminta saya supaya pulang.
Pada saat itu saya merasakan ada perasaan risau dihatiku. Pada hal sebulan yang lalu ada telpon dari adikku yang nomor tiga mengatakan ayah sakit, aku biasa-biasa saja. Namun sekarang perasaanku tidak enak. Aku memberi tahu bagian personalia perusahaan, bahwa aku harus ke Padangpanjang melihat ayahku yang sedang sakit. Hari itu juga aku mencari tiket pesawat Balikpapan-Jakarta-Padang. Aku berangkat sendiri, karena isteriku harus menjaga anak-anakku di Balikpapan.
Jam lima sore dengan taksi dari Pelabuhan Udara Tabing Padang aku sampai di rumah sakit Yarsi di Padangpanjang. Aku dapati ibuku, adikku Yasril yang nomor tiga, adikku Nusyirwan yang nomor empat atau yang bungsu, sedang duduk disamping ayahku yang terbaring antara sadar dengan tidak. Melihat aku datang, ibuku membisikkan ketelinga ayah. Aku lihat beliau membuka matanya. Ia berkata lemah; ”Anakku telah datang, kenapa telat nak? ”Yah aku menempuh perjalanan dengan berganti pesawat, bagaimana keadaan ayah?, tanyaku. Kulihat ia tersenyum. ”Ayah sudah shalat?, tanyaku.
”Ayah belum shalat ashar”, kata ibu.
”Yah, kataku mari kita shalat, aku akan mengambil udhuk dulu”, kataku.
Selesai mengambil udhuk aku mendekati ayah, dan aku berbisik ketelinganya.
”Yah, ikuti aku shalat, ayah gerakkan mata ayah saja, aku akan jadi imam”, kataku.
Aku ingat dulu waktu aku masih di SMP aku sering diajarkan kakek jadi imam, dan ayah serta kakek jadi makmumku. Untuk latihan kata kakek.
Aku shalat ashar disamping ranjangnya. Sambil aku berdo’a, ”Ya Allah kuatkan ayahku untuk shalat bersamaku. Ijinkan ia shalat sambil berbaring dalam sakitnya. Ia sedang sakit Ya Allah. Kalau engkau ijinkan ia sembuh, maka sembuhkanlah ia, namun, bila Engkau takdirkan ia harus segera menghadap-Mu, kembalikanlah ia kepada Engkau dalam keadaan husnul khatimah”.
Selesai berdo’a aku usap wajahnya. Aku urut kakinya, dan aku rasakan kakinya telah mulai dingin. Tidurlah yah bisikku. Ibuku mencoba meneteskan bubur kebibirnya yang cenderung terkatup, ia telan sedikit, dan sisanya meleleh kembali keluar bibirnya. Ayahku rupanya sudah lemah badannya.
Aku tanya ibu, apa yang diderita ayah sebelum masuk rumah sakit. Ibu bilang dua hari yang lalu ayah mengeluh badannya lemah dan selera makannya patah. Dia tidak mau makan, dan ibu merasakan badannya panas. Dan langsung dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit ayah di periksa dan dokter memutuskan ayah harus transfusi darah karena Hbnya turun banyak. Keesokan harinya ayah membaik dan ia bisa jalan dengan dibimbing ibu ke mushala belakang untuk shalat. Namun malam kemaren kembali ayah melemah dan kembali dipasang slang transfusi dan infus. Aku paham bahwa organ dalam ayahku kelihatannya mulai kehilangan fungsinya. Apakah karena umur ayah yang tua? Rasanya belum tua benar. Umur ayah tahun ini adalah 69 tahun. Tapi aku kembali teringat bahwa dalam AlQur’an Allah mengatakan bahwa soal umur tidak bisa diatur manusia, hanya Allah yang Maha Kuasa. Umur seseorang bisa panjang bisa pendek tergantung ajalnya atau masa tempuhnya di dunia yang juga Allah yang Menentukan. Rupanya masa perjalanan ayahku di dunia ini mendekati selesai. Jadi ia kemungkinan sedang dalam proses kembali ke Tuhan.
Jam enam aku temui dokter jaga rumah sakit untuk menanyakan bagaimana sakit ayahku. Dokter mengatakan, bahwa ayah lemah dan organ dalamnya juga lemah. Sudah dicoba untuk transfusi darah, karena Hbnya turun. Aku tanyakan apakah bisa dibawa ke rumah sakit yang lebih besar supaya bisa dirawat lebih intensif, ke Padang atau ke Jakarta misalnya. Dokter bilang kita coba dulu merawat pak, kalau keadaannya agak kuat bisa kita bawa. Sekarang beliau lemah sekali.
Pada keesokan harinya keadaan ayah tidak membaik juga. Aku menasihati ibuku supaya bersabar dan merelakan bila ayah memang akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Ibuku hanya diam, namun air mata meleleh dipipinya. Aku tahu ibuku sangat mencintai ayahku. Ibuku kawin masih sangat muda dengan ayahku. Ibu baru berusia lima belas waktu tahun 1950 mereka menikah, dan ayah sudah berusia 23 tahun dan menjadi tentara muda yang gagah. Ia disuruh pulang kampung oleh komandannya waktu itu untuk segera beristeri agar bisa menemani ayah yang bertugas di Bengkalis Kepulauan Riau. Setahun kemudian pada tahun 1951 bulan Nopember lahirlah anak mereka seorang bayi laki-laki yang cakap sekali kata ibuku. Bayi itu adalah aku anak pertama mereka. Sejak saat itu ibuku selalu ikut kemanapun ayah pergi. Mereka pindah-pindah tempat sesuai kemana ayah ditugaskan. Ayah dan ibuku tidak pernah berpisah.
Malam harinya saya, ibu, adikku yang bungsu, kami membaca surat yasiin untuk mendo’akan kesembuhan ayah.
Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di teras rumah sakit. Banyak orang menggotong orang-orang yang luka-luka. Aku keluar dan menanyakan ke seorang perawat, ada apa sebenarnya. Ada kecelakaan di Batipuh pak, kira-kira 10 kilo kearah Timur Padangpanjang. Sebuah bis antarkota, menabrak tiang jembatan dan terjun kesungai. Ada yang mati, dan banyak yang luka-luka. Sebagian yang luka dibawa ke RSU dan sebagian ke Yarsi.
Malam itu aku ikut membantu merawat para penumpang yang luka, ada sekitar lima belas orang, mereka dibaringkan saja di lantai, karena Yarsi rumah sakit kecil ini kehabisan tempat tidur.
Tengah malam aku sudah kelelahan dan aku mencari penginapan, untuk istirahat.
Paginya, aku kembali ke rumah sakit untuk melihat ayah. Keadaan ayah makin buruk. Ia kehilangan kesadaran. Dan slang transfusinya telah dicabut dokter, karena pembuluh darahnya mengecil dan cenderung darah tidak mau masuk lagi. Sedangkan slang infus masih jalan. Aku raba kaki ayah. Kakinya benar-benar telah dingin. Aku tahu ayahku sedang menghadapi kematiannya. Aku kembali berdo’a pada Allah agar diberikan kemudahan jalan bagi ayahku untuk pergi.
Jam sembilan malam kurang sedikit, setelah aku ajak ayah dengan berbisik untuk shalat isya, aku lihat ayah tersenyum, tangannya menggapai sesuatu. Oleh ibuku diangsurkan kopiah putih hajinya kekepalanya. Tangannya kembali diam. Ayahku bersama ibu sempat pergi menunaikan ibadah haji pada tahun 1993. Waktu enam bulan keberangkatan, ibu menelpon ke Balikpapan. Ia mengabarkan kalau ayah juga ingin pergi bersama ibu ke Mekah. Sekarang ayah mulai sakitan. Namun, kata ibu setelah diperiksa kerumah sakit, dokter mengatakan bahwa ayah cukup kuat untuk berangkat haji tahun ini. Ibu menanyakan kalau aku ada uang untuk membiayai ayah sekalian alangkah senangnya hatinya. Dengan gembira aku jawab, ”Tolong katakan pada ayah, bahwa aku akan segera kirim biaya. Berangkatlah ibu berdua ayah”, kataku.
Dirumah aku diskusikan dengan isteriku menyangkut telpon ibu. Isteriku mengatakan, segera kirim uang ke Padang, kapan lagi kita menyenangkan hati orang tua kita, demikian kata isteriku menegaskan. Aku mengucapkan terima kasih atas persetujuan isteriku. Demikianlah rupanya selama melaksanakan rukun haji ayah sehat-sehat saja. Sejak saat itu ayah tidak pernah melepaskan kopiah hajinya. Rupanya pada saat terakhirnya ini beliau juga mau mengenakan kembali kopiahnya.
Aku melihat napas ayah sudah dilehernya. Aku bisikkan kalimah shahadat ketelinganya. Dan ia tersenyum. Dan napas terakhir itu keluar dari bibirnya yang masih tersenyum. Lalu ia diam untuk selama-lamanya. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun. Ayahku telah tiada rupanya. Hari ini tanggal 27 Juni tahun 1996. Aku tutupkan kedua mata ayah, dan kedua tangannya aku lipatkan kedadanya. Aku berbisik, pergilah dengan tenang ayah yang kami cintai, pergilah engkau pahlawan keluarga, maafkanlah segala kesalahan kami, terutama aku yah, aku anakmu yang pertama, kalaulah aku tidak sempat menyenangkanmu, kalau aku kurang berbakti kepadamu, dan selama ini aku selalu jauh dari ayah, dan kurang memperhatikan ayah, maafkan aku ya yah. Pergilah ayah dengan damai. Temuilah Tuhan dengan senyum wahai ayahku tercinta. Tidak terasa air mata meleleh dipipiku. Aku menggigit bibir menahan kesedihan karena kepergian orang yang aku sayangi, orang yang aku hormati, ayah yang aku banggakan.
Aku lihat ibu terisyak. Ia menahan tangisnya. Ibu mencium pipi ayah.
”Uda, maafkan awak. Kalau awak banyak berdosa pada uda, maafkanlah awak ya da. Uda sudah awak maafkan, walau awak tahu uda tidak ada salah pada awak, ataupun pada orang lain. Uda orang baik di masyarakat”.
Lalu ibuku menangis. Kecintaannya yang terbawa ayah yang telah pergi tidak kuasa ia tahan di dadanya. Kesedihannya ia tumpahkan dalam tangisan di kamar rumah sakit Yarsi Padangpanjang.
”Pak, maafkan Wan ya pak, awak banyak bersalah pada apak, maafkan Wan pak”, kata adikku yang bungsu dalam tangisannya. Kami memanggil apak pada ayah kami.
Kemudian aku mencari dokter. Rupanya ia telah pulang. Aku menemui kepala perawat. Aku mengabarkan bahwa ayahku telah tiada jam sembilan tepat tadi. Perawat itu datang ke kamar. Ia menyenter mata ayah yang sudah tidak berkedip lagi. Memang, ayah telah pergi katanya. Lalu ia kekantor untuk membuat surat kematian. Aku menanyakan ambulan untuk membawa ayah pulang ke Kandangampek, kira-kira dua belas kilometer kerah selatan PadangPanjang. Kebetulan ambulan lagi terpakai. Setelah menyelesaikan pembayaran rumah sakit, baru tiga jam kemudian, dengan ambulan rumah sakit, kira-kira jam duabelas tengah malam jenazah ayah kami bawa pulang.
Jam satu tengah malam jenazah ayah sampai di rumah disambut oleh tangisan adikku perempuan Dadiarti dan Yasril.
Menyiapkan pekuburan
Dinihari itu saya dan adik-adik dengan dibantu oleh tetangga, kami menyiapkan penyelenggaran penguburan ayah kami.
Rumah ibu saya yang sempat saya renovasi ukurannya kecil. Sekarang rumah ini terasa sempit dengan kedatangan tetangga untuk melayat jenazah ayah.
Sebagian mereka membantu segala sesuatu yang perlu dikerjakan. Semangat gotong royong di kampung kami ini masih terasa kental. Apalagi kebanyakan mereka juga saudara dan tetangga dekat.
Sehabis shalat shubuh, saudara-saudara kami, Pudin, uda Tius, Win suami adik saya, dan beberapa pemuda pergi menggali kuburan di bukik Rambai tempat pekuburan keluarga kami. Di Bukik Rambai banyak di kuburkan nenek, kakek, bapak, ibu dan saudara yang telah mendahului menghadapnya dikuburkan. Disana dikuburkan nenekku yang aku panggil Amak, Darama namanya. Juga kakak nenek yang aku panggil Mak Ayang, Ramalah namanya. Juga kakak Mak Ayang yang aku panggil Nek Tuo Tan. Juga di sana dikuburkan kakak mereka Datuak Rajo Khatib Tuo. Ada kuburan Inyiak, kuburan gaek Lenggang, kuburan Tuo Ana, kuburan uda Nipon Ketek, pak tuo Aripin, kuburan Darnalis anak Tuo Ana, kuburan si ’Ai, adik Darnalis yang meninggal ketika masih sekolah SD. Ada juga kuburan adikku Syafril yang meninggal karena infeksi diarhea berat waktu masih berumur tiga tahun, dan kuburan lainnya.
Kuburan untuk ayah digali persis disamping kuburan nenek.
Jam tujuh pagi saya, Yasril, Wan, dan seorang kakak isteri saya yang bernama Uda Ambo, kami memandikan ayah. Kami bersihkan tubuh beliau untuk terakhir kalinya, sambil berdoa pada Allah agar dosanya diampuni dan arwahnya diterima Disisi-Nya.
Ibu duduk disamping saya, ia ikut menggosok tubuh ayah.
”Tek Nian (aku memanggil etek pada ibu, kebiasaan sejak kecil) jangan menangis, relakan kepergian apak”, kataku.
Jam setengah sembilan, jenazah selesai kami bungkus atau dikapani dengan kain putih. Jenazah diletakkan di ruang tengah untuk memberi kesempatan pelayat melihat ayah terakhir kalinya. Banyak yang datang, karena beliau banyak punya teman sampai kedesa tetangga Kayutanam. Bekas teman-temannya seperjuangan dulu yang masih hidup pada berdatangan. Kira-kira jam sebelas kuburan sudah siap digali.
Tiba-tiba sebuah bis berhenti di depan rumah. Rupanya isteri saya telah datang dari Balikpapan. Karena kemaren malam juga ia saya telpon memberi tahu kalau ayah telah tiada. Ia langsung berlari mendapatkan jenazah ayah yang terbaring di ruang tengah. Ia menangis. Karena ia sangat sayang pada ayah saya. Ayah semasa hidupnya juga sangat sayang pada isteri saya.
”Pak, maafkan kesalahan Idai ya pak, kalau Idai kurang memperhatikan apak, maklum kami jauh. Sekarang apak telah pergi. Cucu apak juga minta dimaafkan. Ma, sampaikan maaf kami pada gaek, kata mereka”.
Anak-anakku yang tiga orang perempuan memanggil gaek pada kakeknya.
Isteriku memberikan sebuah surat ucapan belangsungkawa dari kantorku Total E&P Indonesie Balikpapan yang diberikan pada ibu. Isteriku langsung memeluk ibu. Mereka bertangisan berdua.
Kemudian jenazah diusung ke halaman rumah, untuk upacara pemberangkatan ke mesjid atau mushala tempat ayah sering jadi imam shalat.
Aku mulai berpidato untuk melepas jenazah.
”Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun. Sesungguhnya semua yang bernyawa akan kembali kepada-Nya.
Aku anak ayah yang tertua, dan atas nama keluarga kami, kami mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah bapak/ibu, saudara/saudari berikan selama penyelenggaraan jenazah ayah saya.
Atas nama keluarga, saya menyampaikan maaf dari ayah saya, bila seandainya semasa hidup beliau, beliau ada berbuat keteledoran dan kesalahan baik sengaja maupun yang beliau tidak sengaja, dan mungkin tanpa beliau sadari, telah menyakiti hati bapak/ibu saudara/saudari, saya mohonkan rasa maafnya.
Dan bila ada beliau mempunyai utang yang rasanya belum beliau bayar, mohon ditagihkan kepada saya. Saya mohonkan semua ini agar supaya arwah ayah saya tidak punya beban untuk menghadap hari pengadilan-Nya, supaya ia diterima-Nya. Wassalamulaikum warahmatullahi wa barakatuuh”.
Kemudian jenazah ayah diangkat oleh saudara-saudaranya menuju ke mushala.
Dimushala itu saya bertindak jadi imam shalat jenazah. Dalam bacaan shalat, saya terisak menangis. Terbayang ayah saya ditempat ini jadi imam waktu saya pulang kampung dua tahun lalu. Sekarang ia telah terbujur kaku didepan kami orang yang turut menyalatkan beliau sebelum tubuhnya dikembalikan ketanah tempat asal semua manusia.
Selesai shalat jenazah jenazah diangkat ke kuburan yang berjarak kira-kira lima ratus meter dari situ. Sesampai di Bukik Rambai, jenazah diturunkan. Aku melompat dan turun ke dalam lobang kuburan, aku dan adikku Yasril dan Pudin, menerima jenazah ayah. Aku miringkan wajah beliau ke arah kiblat, karena begitu perintah agama, aku buka ikatan kain kafan, ditutup dengan sehelai papan, dan kemudian pelan-pelan ditimbun dengan tanah. Kembali aku berdo’a dan meminta maaf ke ayah. Aku naik, dan mulailah kami bergantian menimbun lobang kuburan itu sampai selesai. Selesai pulalah tugas ayahku di dunia ini. Ia telah menutup ceritanya di dunia ini sejak tanggal 27 Juni tahun 1996, untuk seterusnya aku lanjutkan karena aku yang kemudian bertanggung jawab kepada keluargaku sebagai anak beliau yang tertua.
Saya, isteri saya, ibu, adik-adik, kami masih tinggal dikuburan kira-kira sejam kemudian. Kami membaca AlQur’an Surat Yasiin yang dipimpin isteriku. Selesai membaca AlQur’an aku memimpin do’a. Dan kembali kami beringsut pulang.
”Yah, Apak, kami pulang, tidurlah dengan tenang, sampai hari kiamat tiba sesuai janji-Nya pada kita.
Assalamualaikum. Dan Bukik Rambaipun kami tinggalkan.
Disana ayah kami tinggalkan buat selamanya.
Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun.
SI PENCABUT NYAWA
OLEH: DASRIELNOEHA
Pagi itu kami kembali melakukan kegitan rutin. Mengukur panjangnya jalan Gading Raya, kata bapak As.
“Pak, lihat rumah ini sepi ya, kata bapak M sambil ia menunjuk sebuah rumah yang cukup besar di sudut jalan itu.
“Ya, kelihatannya sepi saja, jawabku.
“Sekarang kan cuma tinggal ibunya dan seorang anak gadisnya yang bekerja sebagai sales perusahaan assuransi”, kata bapak G.
“Anaknya yang lain pada kemana?, tanya saya.
“Bapak tidak tahu ya, kan anaknya cuma dua, yang tua laki-laki kan sudah meninggal lima tahun lalu”, kata bapak M lagi.
“Ah saya tidak tahu, yang saya tahu bapak ini meninggal tahun lalu”, kata saya.
"Sekarang hanya tinggal isterinya di rumah besar ini".
“Anaknya itu meninggal karena narkoba”, kata bapak E.
“Gimana ceritanya?, tanya saya.
“Anak laki-lakinya kuliah di Depok. Ia anak yang paling dimanja oleh ibunya dan juga ayahnya sayang padanya. Maklum anak pejabat di DKI, ia dibelikan motor dan ia kos di Depok. Saat ia tingkat tiga ia ditelpon oleh temannya yang mengatakan bahwa anaknya itu lagi dirawat di Fatmawati. Ia dan isterinya bergegas kesana. Dan mereka mendapati anaknya lagi menggeliat-geliat di ruang gawat darurat. Ia bertanya kepada dokter, kenapa anaknya. Dokter mengatakan bahwa anaknya sedang keracunan obat. Ia kebanyakan nyuntik.
Deer, terasa disambar petir rasanya ketika itu. Rupanya anaknya telah terlibat narkoba tanpa setahu dia. Sebenarnya ia telah diberi tahu oleh Rina anaknya yang kedua.
“Pa, kelihatannya abang sudah mulai sakaw, papa harus mengawasinya, jangan-jangan nati ia makin gawat dan di tangkap polisi, suatu hari Rina pernah memberi tahu keadaan Billy anaknya yang tua itu.
Tapi ia tidak percaya waktu itu. Ia anggap itu pengaruh teman-temannya. Nanti suatu saat ia pasti akan baik, begitu pikirannya waktu itu.
Diatas ranjang ruang gawat darurat, kelihatan Billy meronta, dan tubuhnya mengejang, matanya membelalak, dan ia berteriak, lalu diam. Billy rupanya telah menghembuskan napasnya yang penghabisan di rumah sakit itu.
Bapaknya itu terjatuh, dan ibunya langsung pingsan.Sejak saat itu ia kelihatan linglung dan sering sakitan. Ia terpaksa pensiun satu tahun sebelum waktunya. Dan karena stress ia sering ke rumah sakit. Kadar gulanya naik, akhirnya ginjalnya gagal menjalankan fungsinya. Dan ia anfal, dibawa kerumah sakit, tiga hari dirumah sakit ia meninggal.
“Demikian dahsyat akibat narkoba itu ya, kata bapak As.
“Itulah pak, karena ia menyerang pusat syaraf, karena senyawaan kimia di kandungan oabt-obat itu memang untuk menenagkan syaraf. Kalau ia dipakai berlebihan, maka ia akan melumpuhkan syaraf, dan itu bisa mengakibatkan kematian, kata saya.
Saya ingat cerita hal yang sama. Seorang anak buah saya juga meninggal akibat obat-obatan. Saya sebagai atasannya waktu itu merasa kecolongan waktu itu. Betapa tidak saya tidak mengetahui bahwa ia pencandu obat terlarang.
Anak buah saya itu bernama M. Ia adalah seorang petugas security perusahaan di Balikpapan. Anaknya sebenarnya baik. Ia suka membantu orang. Dan ia belum kawin waktu itu.
Sore itu ia bertugas di sebuah komplek perumahan perusahaan. Ia bertugas sampai jam lima sore. Kata temannya ia masih sempat mendorong mobil seorang pegawai yang mogok. Ia sehat-sehat saja sore itu.
Malam itu, kira-kira jam sepuluh telpon di rumah saya berdering. Rupanya dari posko security.
“Halo, ada apa, kata saya.
“Pak, lapor pak, si M sudah meninggal, barusan di rumahnya, kata anak buah saya yang piket dan bertugas di posko malam itu.
“Ah, kenapa ia, kecelakaan”, tanya saya.
“Bukan kecelakaan pak, sakit kata kakaknya.
“Baik, saya akan lihat”, kata saya.
Saya ambil mobil dan langsung menuju rumahnya di Karang Rejo. Orang sudah ramai di rumah itu. Saya langsung masuk. Rupanya teman-temannya yang semuanya anak buah saya telah datang di rumah itu. Saya membuka muka mayatnya yang telah terbujur kaku. Saya lihat wajahnya menghitam. Dan pangkal lengannya juga menghitam. Perkiraan saya ia meninggal karena serangan jantung. Saya tanya Panjaitan, kenapa ia. Panjaitan membisikkan kepada saya, bahwa ia tadi minum-minum dengan teman-temannya grup Vespa tua Balikpapan di pantai Melawai. Ia meminum Sprite campur dengan obat batuk Benadril, kata temaanya. Tapi menurut saya ia kembali makan obat-obatan pak, kata Panjaitan. Panjaitan menerangkan lebih lanjut bahwa sebenarnya sudah enam bulan M sebagai pemakai.
Di sebuah tempat kos di Bandung saya kenal dengan bapak dan ibu kos disana. Sang bapak adalah seorang pejabat negara yang kebetulan dipindah tugaska ke Jakarta. Mereka punya anak tiga orang. Dua perempuan dan satu orang laki-laki yang paling bungsu. Kalau aku ke Bandung melihat anakku yang kuliah di ITB, aku suka mampir kerumah mereka, karena mereka adalah teman baik kami. Aku suka mengajak anaknya yang laki-laki jalan-jalan mencari makanan yang banyak di Bandung. Anaknya ganteng dan baru naik kelas tiga SMA. Suatu hari Vito, demikian namanya mengatakan bahwa ia akan pindah ke Jakarta. Ia mengikuti ayahnya yang bertugas di Jakarta. Aku bilang tidak usyah pindah, dan sekolah saja di Bandung, toh sebentar lagi Vito kan akan kuliah. Ia ingin masuk ke ITB, namun ayahnya meminta ia untuk mendaftar ke Akabri, karena ayahnya adalah seorang lulusan Akabri juga.
Saya terkejut, suatu ketika anak saya memberi tahu bahwa Vito meninggal. Ia meninggal karena kena virus meningitis atau demam tinggi. Aku tahu, Vito baru saja pindah ke Jakarta, dan ia tiga bulan lagi akan lulus SMA. Aku sedih mendengar kematiannya.
Belakangan aku mendapat berita bahwa kematian Vito bukanlah karena meningitis, tapi OD (over dosis) obat-obatan. Rupanya ia terpengaruh teman-temannya sesama anak orang kaya yang suka pakai obat-obatan. Inilah sebenarnya yang aku sarankan kepada kedua orang tuanya supaya Vito jangan pindah ke Jakarta. Aku kuatir ia terpengaruh pergaulan bebas Jakarta. Namun ibunya yang paling sayang kepadanya, memaksa anak bungsunya ini untuk pindah ke Jakarta. Jakarta adalah kota ini sudah sangat bebas dengan peredaran obat terlarang. Sudah ratusan anak muda mati terpaksa karena menelan obat-obat syetan itu. Termasuk Vito, nyawanya telah dicabut paksa oleh iblis laknat yang bernama narkoba. Vito, semoga Tuhan mengampunimu.
Pagi itu kami kembali melakukan kegitan rutin. Mengukur panjangnya jalan Gading Raya, kata bapak As.
“Pak, lihat rumah ini sepi ya, kata bapak M sambil ia menunjuk sebuah rumah yang cukup besar di sudut jalan itu.
“Ya, kelihatannya sepi saja, jawabku.
“Sekarang kan cuma tinggal ibunya dan seorang anak gadisnya yang bekerja sebagai sales perusahaan assuransi”, kata bapak G.
“Anaknya yang lain pada kemana?, tanya saya.
“Bapak tidak tahu ya, kan anaknya cuma dua, yang tua laki-laki kan sudah meninggal lima tahun lalu”, kata bapak M lagi.
“Ah saya tidak tahu, yang saya tahu bapak ini meninggal tahun lalu”, kata saya.
"Sekarang hanya tinggal isterinya di rumah besar ini".
“Anaknya itu meninggal karena narkoba”, kata bapak E.
“Gimana ceritanya?, tanya saya.
“Anak laki-lakinya kuliah di Depok. Ia anak yang paling dimanja oleh ibunya dan juga ayahnya sayang padanya. Maklum anak pejabat di DKI, ia dibelikan motor dan ia kos di Depok. Saat ia tingkat tiga ia ditelpon oleh temannya yang mengatakan bahwa anaknya itu lagi dirawat di Fatmawati. Ia dan isterinya bergegas kesana. Dan mereka mendapati anaknya lagi menggeliat-geliat di ruang gawat darurat. Ia bertanya kepada dokter, kenapa anaknya. Dokter mengatakan bahwa anaknya sedang keracunan obat. Ia kebanyakan nyuntik.
Deer, terasa disambar petir rasanya ketika itu. Rupanya anaknya telah terlibat narkoba tanpa setahu dia. Sebenarnya ia telah diberi tahu oleh Rina anaknya yang kedua.
“Pa, kelihatannya abang sudah mulai sakaw, papa harus mengawasinya, jangan-jangan nati ia makin gawat dan di tangkap polisi, suatu hari Rina pernah memberi tahu keadaan Billy anaknya yang tua itu.
Tapi ia tidak percaya waktu itu. Ia anggap itu pengaruh teman-temannya. Nanti suatu saat ia pasti akan baik, begitu pikirannya waktu itu.
Diatas ranjang ruang gawat darurat, kelihatan Billy meronta, dan tubuhnya mengejang, matanya membelalak, dan ia berteriak, lalu diam. Billy rupanya telah menghembuskan napasnya yang penghabisan di rumah sakit itu.
Bapaknya itu terjatuh, dan ibunya langsung pingsan.Sejak saat itu ia kelihatan linglung dan sering sakitan. Ia terpaksa pensiun satu tahun sebelum waktunya. Dan karena stress ia sering ke rumah sakit. Kadar gulanya naik, akhirnya ginjalnya gagal menjalankan fungsinya. Dan ia anfal, dibawa kerumah sakit, tiga hari dirumah sakit ia meninggal.
“Demikian dahsyat akibat narkoba itu ya, kata bapak As.
“Itulah pak, karena ia menyerang pusat syaraf, karena senyawaan kimia di kandungan oabt-obat itu memang untuk menenagkan syaraf. Kalau ia dipakai berlebihan, maka ia akan melumpuhkan syaraf, dan itu bisa mengakibatkan kematian, kata saya.
Saya ingat cerita hal yang sama. Seorang anak buah saya juga meninggal akibat obat-obatan. Saya sebagai atasannya waktu itu merasa kecolongan waktu itu. Betapa tidak saya tidak mengetahui bahwa ia pencandu obat terlarang.
Anak buah saya itu bernama M. Ia adalah seorang petugas security perusahaan di Balikpapan. Anaknya sebenarnya baik. Ia suka membantu orang. Dan ia belum kawin waktu itu.
Sore itu ia bertugas di sebuah komplek perumahan perusahaan. Ia bertugas sampai jam lima sore. Kata temannya ia masih sempat mendorong mobil seorang pegawai yang mogok. Ia sehat-sehat saja sore itu.
Malam itu, kira-kira jam sepuluh telpon di rumah saya berdering. Rupanya dari posko security.
“Halo, ada apa, kata saya.
“Pak, lapor pak, si M sudah meninggal, barusan di rumahnya, kata anak buah saya yang piket dan bertugas di posko malam itu.
“Ah, kenapa ia, kecelakaan”, tanya saya.
“Bukan kecelakaan pak, sakit kata kakaknya.
“Baik, saya akan lihat”, kata saya.
Saya ambil mobil dan langsung menuju rumahnya di Karang Rejo. Orang sudah ramai di rumah itu. Saya langsung masuk. Rupanya teman-temannya yang semuanya anak buah saya telah datang di rumah itu. Saya membuka muka mayatnya yang telah terbujur kaku. Saya lihat wajahnya menghitam. Dan pangkal lengannya juga menghitam. Perkiraan saya ia meninggal karena serangan jantung. Saya tanya Panjaitan, kenapa ia. Panjaitan membisikkan kepada saya, bahwa ia tadi minum-minum dengan teman-temannya grup Vespa tua Balikpapan di pantai Melawai. Ia meminum Sprite campur dengan obat batuk Benadril, kata temaanya. Tapi menurut saya ia kembali makan obat-obatan pak, kata Panjaitan. Panjaitan menerangkan lebih lanjut bahwa sebenarnya sudah enam bulan M sebagai pemakai.
Di sebuah tempat kos di Bandung saya kenal dengan bapak dan ibu kos disana. Sang bapak adalah seorang pejabat negara yang kebetulan dipindah tugaska ke Jakarta. Mereka punya anak tiga orang. Dua perempuan dan satu orang laki-laki yang paling bungsu. Kalau aku ke Bandung melihat anakku yang kuliah di ITB, aku suka mampir kerumah mereka, karena mereka adalah teman baik kami. Aku suka mengajak anaknya yang laki-laki jalan-jalan mencari makanan yang banyak di Bandung. Anaknya ganteng dan baru naik kelas tiga SMA. Suatu hari Vito, demikian namanya mengatakan bahwa ia akan pindah ke Jakarta. Ia mengikuti ayahnya yang bertugas di Jakarta. Aku bilang tidak usyah pindah, dan sekolah saja di Bandung, toh sebentar lagi Vito kan akan kuliah. Ia ingin masuk ke ITB, namun ayahnya meminta ia untuk mendaftar ke Akabri, karena ayahnya adalah seorang lulusan Akabri juga.
Saya terkejut, suatu ketika anak saya memberi tahu bahwa Vito meninggal. Ia meninggal karena kena virus meningitis atau demam tinggi. Aku tahu, Vito baru saja pindah ke Jakarta, dan ia tiga bulan lagi akan lulus SMA. Aku sedih mendengar kematiannya.
Belakangan aku mendapat berita bahwa kematian Vito bukanlah karena meningitis, tapi OD (over dosis) obat-obatan. Rupanya ia terpengaruh teman-temannya sesama anak orang kaya yang suka pakai obat-obatan. Inilah sebenarnya yang aku sarankan kepada kedua orang tuanya supaya Vito jangan pindah ke Jakarta. Aku kuatir ia terpengaruh pergaulan bebas Jakarta. Namun ibunya yang paling sayang kepadanya, memaksa anak bungsunya ini untuk pindah ke Jakarta. Jakarta adalah kota ini sudah sangat bebas dengan peredaran obat terlarang. Sudah ratusan anak muda mati terpaksa karena menelan obat-obat syetan itu. Termasuk Vito, nyawanya telah dicabut paksa oleh iblis laknat yang bernama narkoba. Vito, semoga Tuhan mengampunimu.
AHLI BIOLOGI
OLEH: DASRIELNOEHA
Ia memang seorang ahli bilogi. Oleh sekolahnya ia digelari Mahaguru. Mahasiswanya mengakuinya sebagai Mbahnya Hayati. Di rumah ia seorang suami, seorang bapak, dan seorang pesuruh dirinya sendiri. Isterinya berkata,
"Sudahlah Pa, masuklah kerumah, hari sudah mulai hujan, lama betul Papa di kebun itu".
Namun, ia tetap saja mencongkel tanah, ia asyik mengaduk dan menggembur tanah dengan pupuk yang dibuatkan oleh rekannya seorang Mahaguru Kimia yang kepalanya telah lama botak dimakan rumus-rumus. Ia asyik menghadapi tanaman kesayangannya; sebatang tebu, sebatang pohon cabe rawit, sebatang singkong, sebatang pohon apel, dan sebatang pohon mangga. Ditangannya ada pula sebuah buku tebal yang sudah lusuh karena bertahun-tahun ia bolak balik, untuk menemukan yang dicarinya. Ia ingin buah apelnya semanis tebu, dan buah cabe rawitnya semanis apel, dan umbi singkongnya tumbuh di dahan singkong dan bukan di tanah, sehingga ia tidak perlu menggali tanah kalau isterinya menginginkan menggoreng singkong. Namun penantian itu tidak kunjung tiba, cabe rawit tetap pedas, tebu tetap pohonnya manis, apel tetap kurang manis, dan mangga tetap tidak mau secantik buah apel. Ia berpikir percuma aku seorang Mahaguru Bilogi karena mengatur empat jenis pohon ini saja aku tidak becus, pada hal aku tanam di tanah yang sepuluh meter persegi ini. Sang professor lupa, bahwa makhluk Allah yang tumbuh ditanah itu telah Ia Beri dengan Sunah-Nya sendiri-sendiri. Proses tumbuhnya tebu dan kapan batang tebu itu mengumpulkan gula hanya Ia yang sanggup Mengaturnya. Buah cabe yang kelihatan merah menyala diisi oleh Allah dengan semacam zat asam yang berasa pedas namun berkhasiat menyembuhkan penyakit. Ia tidak akan menyerap gulanya tebu walaupun mereka tumbuh dan hidup pada tanah yang hanya satu meter persegi dan pohonnya berdekatan, dan sebaliknya tebu tidak akan pedas rasa pohonnya, tetap saja manis. Itulah Kuasanya Tuhan, Allah Maha Tinggi.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan, dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan, dan bumi bagaimana ia dihamparkan, maka berilah peringatan, karena kamu sesungguhnya hanyalah orang yang memberi peringatan, Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (QS Al Ghaasiyah ayat 17-18-19-20- 21-22).
Ia baru tersadar setelah isterinya berteriak, " Kesini, hai professor sinting hujan begini deras masih saja di kebon", dan ia lari masuk rumah dengan basah kuyup.
Dengan wajah bengong sang professor, masuk ke kamar mandi, dan ia menyambar handuk yang tergantung di kapstok yang di pakukan ke dinding kamar mandi yang mengkilat karena telah dipasangi dengan dinding keramik merek Essenza yang bewarna putih mengkilat dan diselang selingi dengan bunga.
“Aha..ha…besok aku cabuti semua tanaman yang tidak mau aku atur itu, lebih baik aku tanami bunga saja, biar cantik bewarna pekaranganku”, kata pak professor dalam hatinya.
Byur..ia sirami tubuhnya dengan air selagi masih berpakaian.
Hi…hi,,dinginnya air ini, keluhnya.
Malamnya sang professor yang ahli biology itu bermimpi. Ia didatangi seekor burung yang hinggap mematok kepalanya sampai rambutnya gugur dan tercabut semua. Ia berteriak, jangan, jangan cabut rambutku. Burung itu terbang, namun ia kemudian hinggap lagi. Kali ini ia hinggap di hidung si professor. Lalu burung itu mematuk giginya. Aduuh, sakit jerit si professor. Kemudian ia terbangun, hari sudah mulai terang. Ia kemudian ke kamar mandi. Ia gosok gigi, dan teng sebuah giginya jatuh karena telah lapuk akarnya. Gigi itu kuning. Hah, heran si professor, kemaren kan kamu saya kasih obat pemutih, kenapa kamu tetap kuning, kamu menyalahi aspek organic dan pertumbuhan sel, katanya lagi. Air di wastafel agak susah turun dari discharge-nya. Rupanya ada segumpal rambut yang menyumbat disitu. Rambut professor rupanya banyak gugur pagi itu. Sekarang kepalanya benar-benar sudah botak.
Apa ya obat yang bagus untuk kembali menanam rambut ini, keluhnya sambil ia berlari ke laboratoriumnya.
Ia memang seorang ahli bilogi. Oleh sekolahnya ia digelari Mahaguru. Mahasiswanya mengakuinya sebagai Mbahnya Hayati. Di rumah ia seorang suami, seorang bapak, dan seorang pesuruh dirinya sendiri. Isterinya berkata,
"Sudahlah Pa, masuklah kerumah, hari sudah mulai hujan, lama betul Papa di kebun itu".
Namun, ia tetap saja mencongkel tanah, ia asyik mengaduk dan menggembur tanah dengan pupuk yang dibuatkan oleh rekannya seorang Mahaguru Kimia yang kepalanya telah lama botak dimakan rumus-rumus. Ia asyik menghadapi tanaman kesayangannya; sebatang tebu, sebatang pohon cabe rawit, sebatang singkong, sebatang pohon apel, dan sebatang pohon mangga. Ditangannya ada pula sebuah buku tebal yang sudah lusuh karena bertahun-tahun ia bolak balik, untuk menemukan yang dicarinya. Ia ingin buah apelnya semanis tebu, dan buah cabe rawitnya semanis apel, dan umbi singkongnya tumbuh di dahan singkong dan bukan di tanah, sehingga ia tidak perlu menggali tanah kalau isterinya menginginkan menggoreng singkong. Namun penantian itu tidak kunjung tiba, cabe rawit tetap pedas, tebu tetap pohonnya manis, apel tetap kurang manis, dan mangga tetap tidak mau secantik buah apel. Ia berpikir percuma aku seorang Mahaguru Bilogi karena mengatur empat jenis pohon ini saja aku tidak becus, pada hal aku tanam di tanah yang sepuluh meter persegi ini. Sang professor lupa, bahwa makhluk Allah yang tumbuh ditanah itu telah Ia Beri dengan Sunah-Nya sendiri-sendiri. Proses tumbuhnya tebu dan kapan batang tebu itu mengumpulkan gula hanya Ia yang sanggup Mengaturnya. Buah cabe yang kelihatan merah menyala diisi oleh Allah dengan semacam zat asam yang berasa pedas namun berkhasiat menyembuhkan penyakit. Ia tidak akan menyerap gulanya tebu walaupun mereka tumbuh dan hidup pada tanah yang hanya satu meter persegi dan pohonnya berdekatan, dan sebaliknya tebu tidak akan pedas rasa pohonnya, tetap saja manis. Itulah Kuasanya Tuhan, Allah Maha Tinggi.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan, dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan, dan bumi bagaimana ia dihamparkan, maka berilah peringatan, karena kamu sesungguhnya hanyalah orang yang memberi peringatan, Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (QS Al Ghaasiyah ayat 17-18-19-20- 21-22).
Ia baru tersadar setelah isterinya berteriak, " Kesini, hai professor sinting hujan begini deras masih saja di kebon", dan ia lari masuk rumah dengan basah kuyup.
Dengan wajah bengong sang professor, masuk ke kamar mandi, dan ia menyambar handuk yang tergantung di kapstok yang di pakukan ke dinding kamar mandi yang mengkilat karena telah dipasangi dengan dinding keramik merek Essenza yang bewarna putih mengkilat dan diselang selingi dengan bunga.
“Aha..ha…besok aku cabuti semua tanaman yang tidak mau aku atur itu, lebih baik aku tanami bunga saja, biar cantik bewarna pekaranganku”, kata pak professor dalam hatinya.
Byur..ia sirami tubuhnya dengan air selagi masih berpakaian.
Hi…hi,,dinginnya air ini, keluhnya.
Malamnya sang professor yang ahli biology itu bermimpi. Ia didatangi seekor burung yang hinggap mematok kepalanya sampai rambutnya gugur dan tercabut semua. Ia berteriak, jangan, jangan cabut rambutku. Burung itu terbang, namun ia kemudian hinggap lagi. Kali ini ia hinggap di hidung si professor. Lalu burung itu mematuk giginya. Aduuh, sakit jerit si professor. Kemudian ia terbangun, hari sudah mulai terang. Ia kemudian ke kamar mandi. Ia gosok gigi, dan teng sebuah giginya jatuh karena telah lapuk akarnya. Gigi itu kuning. Hah, heran si professor, kemaren kan kamu saya kasih obat pemutih, kenapa kamu tetap kuning, kamu menyalahi aspek organic dan pertumbuhan sel, katanya lagi. Air di wastafel agak susah turun dari discharge-nya. Rupanya ada segumpal rambut yang menyumbat disitu. Rambut professor rupanya banyak gugur pagi itu. Sekarang kepalanya benar-benar sudah botak.
Apa ya obat yang bagus untuk kembali menanam rambut ini, keluhnya sambil ia berlari ke laboratoriumnya.
AYAHKU PEJUANG
OLEH: DASRIELNOEHA
Di sebuah gubuk di pinggir rel kereta api. Sudah lama ada cerita duka. Cerita duka antara seorang gadis kecil dan neneknya.
“Nek, kata orang hari ini hari raya, apa maksudnya ya nek”.
Seorang anak perempuan umur lima tahunan bertanya kepada seorang tua yang ia panggil nenek. Mereka tinggal dalam sebuah rumah gubuk dipinggir rel kereta api sekitar Tanah Tinggi di Senen. Si nenek tiap hari akan datang ke proyek Senen untuk mengumpulkan plastik bekas yanng berserakan di pasar rakyat Jakarta Pusat itu. Si anak perempuan kemudian ikut membantu neneknya membersihkan plastik itu untuk kemudian ia jual ke seorang pengepul yang setiap minggu datang dengan gerobaknya. Tidak banyak penghasilan nenek itu, hanya sekitar seratus ribu rupiah tiap minggunya. Namun, uang itu cukup buat makan mereka berdua. Biasanya neneknya membawakan sebungkus nasi Padang yang ia dapat dari sebuah warung Padang di tengar pasar itu. Karena si nenek juga suka membantu mencuci piring di situ. Nasi sebungkus itu cukup untuk makan malam mereka berdua.
“Ya hari kan hari lebaran, orang-orang bergembira setelah puasa satu bulan penuh”, jawab si nenek.
“Jadi hari ini nenek tidak ke pasar?”
“Tidak, kan pasar tutup, biarlah nenek di rumah, sekalian istirahat, kata nenek lagi.
“Oh ya, saya boleh main dengan si Mira ya nek”. Mira adalah sahabat Aisyah tetangga gubuk sebelah yang juga anak pemulung yang tinggal di tepi rel itu.
“Nduk, sini tukar bajumu, kata neneknya sambil mengambil sehelai blus dari dalam kardus. Nduk ini pakai baju pembelian mamamu, sebelum ia pergi.
“Nek, aku kangen sama mama”, Aisyah memandang neneknya, dan suaranya melemah.
“Nenek juga kangen nduk”, nenek membelai rambut Aisyah. Dan air matanya mulai meleleh. Ia teringat akan putrinya Retno yang telah tiada.
Retno, ibunya Aisyah sudah dua tahun meninggal. Ia meninggal karena kecelakaan di Mangga Besar tempatnya bekerja sebagai seorang pramuria sebuah Karaoke. Malam itu setelah selesai tugas, ia akan diantar pulang oleh tukang ojek langganannya. Namun, malang seorang anak muda mabuk yang mengendarai mobil dengan kencang menabrak motor ojek yang ia tumpang. Tukang ojek dan Retno meninggal di tempat itu juga.
Retno adalah seorang wanita cantik. Mereka tadinya tinggal di Malang Jawa Timur. Retno lulusan SMA di kota itu. Ia tidak sekolah lagi, karena ia berpacaran dengan Sartono teman sekelasnya. Sartono masuk tentara setelah lulus SMA. Kemudian mereka kawin. Setahun setelah itu lahirlah Aisyah. Pada saat Aisyah berumur enam bulan, Sartono dikirim oleh kesatuannya ke Aceh untuk tugas tempur melawan GPK.
Tepat pada saat Aisyah ulang tahun pertama, datanglah kabar yang menyedihkan dan sekali gus meruntuhkan cinta Retno. Sartono gugur dalam tugas. Ia tertembak oleh GPK pada saat terjadi kontak senjata di pinggir kota, disebuah bukit kecil di Lhok Sukon. Akhirnya, mereka Retno, ibunya dan Aisyah menuju Jakarta untuk mengadu nasib. Pada tahun pertama kehidupan mereka, baik-baik saja. Retno yang cantik dengan cepat mendapat pekerjaan sebagai pramuria disebuah pusat karaoke, dan ibunya berjualan kue. Mereka menyewa sebuah kamar kecil di Johar dekat dengan pasar Senen. Retno mulai berkenalan dan berpacaran dengan Budi seorang satpam yang bertugas di karaoke itu.
Begitulah takdir mereka, setahun setelah itu terjadilah peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa Retno. Tinggallah Aisyah dan neneknya berdua. Akhirnya mereka pindah ke gubuk di rel kereta api, dan nenek lalu menjadi pemulung di pasar.
“Nenek kenapa menangis, tanya Aisyah.
“Ah, tidak, nenek tidak menangis nduk, Nenek senang lihat kamu cantik memakai baju itu, persis ibumu”.
“Ibuku cantik ya nek”.
“Iya, cantik sekali”.
“Kenapa ibu tidak pulang-pulang nek, Aisyah kangen ibu”.
“Nduk, ibumu pergi jauh, jauh sekali”.
“Ibunya Mira kalau pergi, selalu pulang kerumah, kenapa ibu Aisyah tidak pulang-pulang nek, pergi kemana ia”.
Ah, cucuku yang malang, hati nenek runtuh dengan kesedihan. Ia sangat risau memikirkan nasib cucunya ini. Cucunya yang telah yatim piatu. Sedangkan ia telah tua, dengan siapa cucuku tinggal nanti, bila umurku habis dan aku dipanggil oleh Yang Maha Kuasa?, air mata kembali meleleh dipipi nenek itu.
« Nek, ayahku mana ya nek?, Aisyah bertanya lagi.
“Ayahmu sedang berjuang nduk, dan ia tetap akan jadi pejuang”.
“Kalau begitu aku anak pejuang ya nek, hore aku anak pejuang teriak Aisyah sambil lari ke sebelah menemui temannya Mira.
Ya, sayang, kamu adalah anak pejuang. Ibu dan ayahmu adalah pejuang dan mereka telah berjuang menghadapi hidup dan nasibnya masing-masing. Moga-moga engkau akan besar dengan jiwa mereka, dan moga-moga Allah memeliharamu nduk, do’a si nenek sambil merebahkan dirinya di sebuah bangku kayu di dalam gubuk itu.
Di sebuah gubuk di pinggir rel kereta api. Sudah lama ada cerita duka. Cerita duka antara seorang gadis kecil dan neneknya.
“Nek, kata orang hari ini hari raya, apa maksudnya ya nek”.
Seorang anak perempuan umur lima tahunan bertanya kepada seorang tua yang ia panggil nenek. Mereka tinggal dalam sebuah rumah gubuk dipinggir rel kereta api sekitar Tanah Tinggi di Senen. Si nenek tiap hari akan datang ke proyek Senen untuk mengumpulkan plastik bekas yanng berserakan di pasar rakyat Jakarta Pusat itu. Si anak perempuan kemudian ikut membantu neneknya membersihkan plastik itu untuk kemudian ia jual ke seorang pengepul yang setiap minggu datang dengan gerobaknya. Tidak banyak penghasilan nenek itu, hanya sekitar seratus ribu rupiah tiap minggunya. Namun, uang itu cukup buat makan mereka berdua. Biasanya neneknya membawakan sebungkus nasi Padang yang ia dapat dari sebuah warung Padang di tengar pasar itu. Karena si nenek juga suka membantu mencuci piring di situ. Nasi sebungkus itu cukup untuk makan malam mereka berdua.
“Ya hari kan hari lebaran, orang-orang bergembira setelah puasa satu bulan penuh”, jawab si nenek.
“Jadi hari ini nenek tidak ke pasar?”
“Tidak, kan pasar tutup, biarlah nenek di rumah, sekalian istirahat, kata nenek lagi.
“Oh ya, saya boleh main dengan si Mira ya nek”. Mira adalah sahabat Aisyah tetangga gubuk sebelah yang juga anak pemulung yang tinggal di tepi rel itu.
“Nduk, sini tukar bajumu, kata neneknya sambil mengambil sehelai blus dari dalam kardus. Nduk ini pakai baju pembelian mamamu, sebelum ia pergi.
“Nek, aku kangen sama mama”, Aisyah memandang neneknya, dan suaranya melemah.
“Nenek juga kangen nduk”, nenek membelai rambut Aisyah. Dan air matanya mulai meleleh. Ia teringat akan putrinya Retno yang telah tiada.
Retno, ibunya Aisyah sudah dua tahun meninggal. Ia meninggal karena kecelakaan di Mangga Besar tempatnya bekerja sebagai seorang pramuria sebuah Karaoke. Malam itu setelah selesai tugas, ia akan diantar pulang oleh tukang ojek langganannya. Namun, malang seorang anak muda mabuk yang mengendarai mobil dengan kencang menabrak motor ojek yang ia tumpang. Tukang ojek dan Retno meninggal di tempat itu juga.
Retno adalah seorang wanita cantik. Mereka tadinya tinggal di Malang Jawa Timur. Retno lulusan SMA di kota itu. Ia tidak sekolah lagi, karena ia berpacaran dengan Sartono teman sekelasnya. Sartono masuk tentara setelah lulus SMA. Kemudian mereka kawin. Setahun setelah itu lahirlah Aisyah. Pada saat Aisyah berumur enam bulan, Sartono dikirim oleh kesatuannya ke Aceh untuk tugas tempur melawan GPK.
Tepat pada saat Aisyah ulang tahun pertama, datanglah kabar yang menyedihkan dan sekali gus meruntuhkan cinta Retno. Sartono gugur dalam tugas. Ia tertembak oleh GPK pada saat terjadi kontak senjata di pinggir kota, disebuah bukit kecil di Lhok Sukon. Akhirnya, mereka Retno, ibunya dan Aisyah menuju Jakarta untuk mengadu nasib. Pada tahun pertama kehidupan mereka, baik-baik saja. Retno yang cantik dengan cepat mendapat pekerjaan sebagai pramuria disebuah pusat karaoke, dan ibunya berjualan kue. Mereka menyewa sebuah kamar kecil di Johar dekat dengan pasar Senen. Retno mulai berkenalan dan berpacaran dengan Budi seorang satpam yang bertugas di karaoke itu.
Begitulah takdir mereka, setahun setelah itu terjadilah peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa Retno. Tinggallah Aisyah dan neneknya berdua. Akhirnya mereka pindah ke gubuk di rel kereta api, dan nenek lalu menjadi pemulung di pasar.
“Nenek kenapa menangis, tanya Aisyah.
“Ah, tidak, nenek tidak menangis nduk, Nenek senang lihat kamu cantik memakai baju itu, persis ibumu”.
“Ibuku cantik ya nek”.
“Iya, cantik sekali”.
“Kenapa ibu tidak pulang-pulang nek, Aisyah kangen ibu”.
“Nduk, ibumu pergi jauh, jauh sekali”.
“Ibunya Mira kalau pergi, selalu pulang kerumah, kenapa ibu Aisyah tidak pulang-pulang nek, pergi kemana ia”.
Ah, cucuku yang malang, hati nenek runtuh dengan kesedihan. Ia sangat risau memikirkan nasib cucunya ini. Cucunya yang telah yatim piatu. Sedangkan ia telah tua, dengan siapa cucuku tinggal nanti, bila umurku habis dan aku dipanggil oleh Yang Maha Kuasa?, air mata kembali meleleh dipipi nenek itu.
« Nek, ayahku mana ya nek?, Aisyah bertanya lagi.
“Ayahmu sedang berjuang nduk, dan ia tetap akan jadi pejuang”.
“Kalau begitu aku anak pejuang ya nek, hore aku anak pejuang teriak Aisyah sambil lari ke sebelah menemui temannya Mira.
Ya, sayang, kamu adalah anak pejuang. Ibu dan ayahmu adalah pejuang dan mereka telah berjuang menghadapi hidup dan nasibnya masing-masing. Moga-moga engkau akan besar dengan jiwa mereka, dan moga-moga Allah memeliharamu nduk, do’a si nenek sambil merebahkan dirinya di sebuah bangku kayu di dalam gubuk itu.
MAKAN TIMUN DAN SAYUR SAJA
OLEH: DASRIELNOEHA
Dulu ia seorang pejabat. Tinggi juga jabatannya. Ia sudah tidak punya eselon pangkat lagi. Berarti ia setingkat menteri. Rumahnya memang di komplek menteri. Mobilnya Lexus hitam mengkilat. Ia punya sopir khusus yang disediakan oleh kantor dan dibayar oleh kantor. Di rumah isterinya juga punya sebuah mobil BMW seri 5 keluaran terbaru. Isterinya juga punya seorang sopir yang dibayar entah oleh siapa, olehnya, oleh isterinya sendiri, tidaklah menjadi masalah bagi keluarga petinggi ini. Berapalah gaji seorang sopir yang hanya sekitar dua juta rupiah. Kecillah bagi mereka. Belanja harian mereka sekitar dua juta rupiah juga. Berarti gaji sopir itu setara dengan belanja sehari keluarga itu. Anaknya yang sulung telah lulus perguruan tinggi ternama di tanah air. Dan ia kerja di sebuah perusahaan minyak terkenal dengan gaji besar.
Mantunya seorang sarjana IT yang bekerja di sebuah perusahaan IT provider dengan jabatan Marketing Manejer. Mereka telah mandiri dan menyewa sebuah apartemen mewah di pusat kota yaitu tingkat lima Bellagio. Anaknya yang nomor dua atau yang bungsu masih kuliah di Depok pada Fakultas Ekonomi. Si cantik bungsu ini mereka belikan sebuah Honda Jazz terbaru, untuk bolak balik ke kampusnya.
Di rumahnya sering kedatangan tamu sekitar mulai jam delapan malam setelah ia sampai di rumah. Rumah tempatnya sekarang adalah rumah yang disediakan oleh negara. Rumah pribadinya ada di komplek perumahan elite di Pondok Indah yang hanya sekali-kali dikunjunginya. Selebihnya hanya ditinggali oleh Bik Inah pembantunya dengan suaminya Mang Amat sekalian merangkap tukang kebun dan penjaga rumah. Rumah mewah dengan isi lengkap perabotan dari Italia dan lampu gantung Bohemian itu hanya dinikmati oleh pembantu.
Si bungsu sering menginap dengan kawan-kawanya di apartemen khusus yang dibelikan bokapnya di Kelapa Gading, karena mereka suka kumpul membahas PR kuliah. Takut mengganggu babe, makanya Sandra belikan apartemen dong be, kata putri bungsunya dua tahun lalu itu.
Tamunya itu adalah para pengusaha yang memerlukan tanda tangannya untuk mendapatkan sebuah proyek milyaran, dan juga sebuah rekomendasi untuk menemui pejabat daerah tempat proyek itu berada.
Ia yang tiap tahun cuti ke luar negeri. Paris, Roma, London, New York, Tokyo, Bangkok, Hawai, merupakan langanannya. Dan isterinya yang selalu mengajaknya kesana. Bosan dong pa, kalau hanya ke Bali, kata isterinya.
Sonya adalah seorang wanita cantik yang umurnya sepuluh tahun lebih muda. Dulunya ia bekas none Jakarta. Ia kawini Sonya karena kecantikannya dan juga adalah putri bekas bosnya. Sang bos tertarik dengannya karena prestasinya yang menanjak di departemen itu. Dimana sang bos adalah kepalanya. Dan akhirnya diambil menantu oleh bosnya itu.
Rupanya Sonya isterinya memerlukan untuk belanja pakaian, sepatu, tas dan assesories serta parfum di kota-kota dunia itu.
Mereka makannya di restoran mewah di Jakarta yang berada di hotel-hotel berbintang.
Hidup jet-set istilah kota besarnya. Ia mampu untuk itu. Gajinya besar. Dan ia selalu mendapat ”tips” dari para pengusaha yang ia tolong, dan yang mendapatkan proyek besar, sudah pasti membook paket liburan ke Eropa buat ia sekeluarga sekalian uang belanja. Besar sekali jumlahnya. Bisa puluhan ribu dolar.
Setelah menjadi orang besar, sayangnya ia sudah amat jarang ke mesjid. Bahkan sembahyangnya sering bolong, karena kesibukannya.
Suatu hari habis main golf dengan para teman pejabat lainnya di daerah Bogor, ia merasakan badannya tidak enak. Mungkin masuk angin pak kata sopirnya. Ke ketempat pijat ya mang, katanya pada sopir. Di panti pijat langganannya, ia di pijat oleh seorang pemijat yang cantik ”all-in”. Ia pasti disediakan seorang pemijat paling ok oleh service manager di panti itu. Ia disediakan di ruangan VIP yang harum dengan lampu temaram yang membangkitkan birahinya setiap ia kesana. Si pemijat sudah siap dengan service prima untuk melayani sampai titik keringat terakhir.
Namun, sore itu ia merasakan aneh, adiknya yang paling tidak tahan melihat kemolekan tubuh si pemijat, biasanya sudah meronta dan siap untuk dipegangi, kali ini adem ayem saja. Aneh, si adik hanya tidur, si pemijat berkata, capek ya om, nih adiknya tidur aja, saya godain ya om, biar dia bangun, sambil kuku runcing si pemijat disentuhkan pelan-pelan supaya si adik bangun. Namun, tetap aja ia tidur. Dan kepalanya mulai pusing, mual juga. Ah benar nih, gua masuk angin kali. Neng, pijatin kepala saya, agak pusing nih, katanya ke sipemijat. Baik, om, si pemijat mulai mengacak rambutnya dan mengurut keningnya. Agak enak memang ia rasakan. Namun, kok keringatnya terasa dingin keluar, banyak juga. Kok keringatan om, ACnya kurang dingin kali.
Tiba-tiba ia berdiri. Mau kemana om kata si pemijat. Aku mau muntah rasanya, katanya. Ia berlari ke toilet, dan benar ia muntah- muntah. Akh, gak jadi pijat ya neng, katanya. Ia kembali memasang bajunya ditolong oleh si pemijat. Ia keluar dan langsung ke mobil. Mang, kita kerumah sakit aja, saya mual dan pusing sekali nih, katanya.
Ia ke rumah sakit di Pondok Indah. Ia diperiksa oleh internist, dan sampel darahnya di uji oleh laboratorium. Hasilnya mengagetkan dokter itu. Kadar gula 400, kholesterol 300, fungsi hati menurun, ada gejala gangguan fungsi jantung.
Dokter menganjurkan supaya ia dirawat selama tiga hari sambil observasi.
Akhirnya diketahui, bahwa ia mengidap hepatitis, dan penurunan fungsi ginjal.
Ia minta dikirim ke hospital di Singapura yang lebih canggih katanya.
Ia dirawat selama satu minggu di rumah sakit Metropolitan Singapore. Dan tetap tidak ada perbaikan, akhirnya kesadarannya menurun dan ia masuk ICU. Dengan canggihnya perawatan di rumah sakit itu, dan dibantu obat-obat mahal, ia ada perbaikan. Kemudian ia boleh pulang ke Jakarta, dengan harus dirujuk ke rumah sakit. Oleh dokter di Singapura, ia disuruh mengatur makan atau diet. Ia hanya boleh makan dengan sayur bening tanpa garam, seperti timun, bayam, dan makan ikan rebus juga tanpa garam.
Jadilah ia seorang yang tak berdaya lagi. Ia stres berat. Ia yang super kaya dan punya kekuasaan, sekarang tinggal jadi mayat hidup.
Isterinya yang cantik mulai bosan dengannya. Sonya sering keluar dengan Santo sopirnya yang masih muda. Ada-ada saja alasan Sonya, belanja, melihat rumah di Pondok Indah. Yang jelas mereka sering pulang larut malam. Rupanya Sonya melampiaskan nafsunya ke Santo yang masih muda. Santo mendapat durian runtuh. Gajinya di naikkan. Baru saja ia dibelikan sebuah motor Yamaha Sport baru seharga tiga puluh juta oleh Sonya. Ia telah menjadi pacar majikannya. Ia yang muda siap melayani nafsu binatang Sonya. Bahkan Sonya minta ampun kalau Santo telah galak di tempat tidur. Ia gigit semua permukaan tubuh Sonya yang menggelinjang minta di teruskan. Akhirnya petualangan itu berakhir dengan tertidurnya mereka berdua, Jam sebelas malam baru mereka balik.
Tinggallah sang mayat hidup menikmati kekelaman siksaan dunianya, yang menunggu hari akhirnya. Ia baru menyesal, ia yang tidak mau tahu dengan agama setelah ia jadi pejabat, shalat tidak pernah lagi, apalagi ke mesjid. Pada hal waktu kuliah di Bandung dulu ia termasuk aktivis mesjid. Kekayaan menyebabkannya lupa pada Tuhannya. Kini tersiksalah ia di dunia. Ia menunggu siksaan selanjutnya di akhirat kelak.
Al Qur’an menyindir sang pejabat dengan ayat berikut:
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan sangat yakin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) (At Takaatsur).
Tawassaw Bil Haaq:
• Janganlah kamu hidup berfoya-foya
• Ingatlah kelak kamu akan kembali ke akhirat
• Hindarilah neraka Jahannam
• Carilah Syurga buat tempat kembalimu
Dulu ia seorang pejabat. Tinggi juga jabatannya. Ia sudah tidak punya eselon pangkat lagi. Berarti ia setingkat menteri. Rumahnya memang di komplek menteri. Mobilnya Lexus hitam mengkilat. Ia punya sopir khusus yang disediakan oleh kantor dan dibayar oleh kantor. Di rumah isterinya juga punya sebuah mobil BMW seri 5 keluaran terbaru. Isterinya juga punya seorang sopir yang dibayar entah oleh siapa, olehnya, oleh isterinya sendiri, tidaklah menjadi masalah bagi keluarga petinggi ini. Berapalah gaji seorang sopir yang hanya sekitar dua juta rupiah. Kecillah bagi mereka. Belanja harian mereka sekitar dua juta rupiah juga. Berarti gaji sopir itu setara dengan belanja sehari keluarga itu. Anaknya yang sulung telah lulus perguruan tinggi ternama di tanah air. Dan ia kerja di sebuah perusahaan minyak terkenal dengan gaji besar.
Mantunya seorang sarjana IT yang bekerja di sebuah perusahaan IT provider dengan jabatan Marketing Manejer. Mereka telah mandiri dan menyewa sebuah apartemen mewah di pusat kota yaitu tingkat lima Bellagio. Anaknya yang nomor dua atau yang bungsu masih kuliah di Depok pada Fakultas Ekonomi. Si cantik bungsu ini mereka belikan sebuah Honda Jazz terbaru, untuk bolak balik ke kampusnya.
Di rumahnya sering kedatangan tamu sekitar mulai jam delapan malam setelah ia sampai di rumah. Rumah tempatnya sekarang adalah rumah yang disediakan oleh negara. Rumah pribadinya ada di komplek perumahan elite di Pondok Indah yang hanya sekali-kali dikunjunginya. Selebihnya hanya ditinggali oleh Bik Inah pembantunya dengan suaminya Mang Amat sekalian merangkap tukang kebun dan penjaga rumah. Rumah mewah dengan isi lengkap perabotan dari Italia dan lampu gantung Bohemian itu hanya dinikmati oleh pembantu.
Si bungsu sering menginap dengan kawan-kawanya di apartemen khusus yang dibelikan bokapnya di Kelapa Gading, karena mereka suka kumpul membahas PR kuliah. Takut mengganggu babe, makanya Sandra belikan apartemen dong be, kata putri bungsunya dua tahun lalu itu.
Tamunya itu adalah para pengusaha yang memerlukan tanda tangannya untuk mendapatkan sebuah proyek milyaran, dan juga sebuah rekomendasi untuk menemui pejabat daerah tempat proyek itu berada.
Ia yang tiap tahun cuti ke luar negeri. Paris, Roma, London, New York, Tokyo, Bangkok, Hawai, merupakan langanannya. Dan isterinya yang selalu mengajaknya kesana. Bosan dong pa, kalau hanya ke Bali, kata isterinya.
Sonya adalah seorang wanita cantik yang umurnya sepuluh tahun lebih muda. Dulunya ia bekas none Jakarta. Ia kawini Sonya karena kecantikannya dan juga adalah putri bekas bosnya. Sang bos tertarik dengannya karena prestasinya yang menanjak di departemen itu. Dimana sang bos adalah kepalanya. Dan akhirnya diambil menantu oleh bosnya itu.
Rupanya Sonya isterinya memerlukan untuk belanja pakaian, sepatu, tas dan assesories serta parfum di kota-kota dunia itu.
Mereka makannya di restoran mewah di Jakarta yang berada di hotel-hotel berbintang.
Hidup jet-set istilah kota besarnya. Ia mampu untuk itu. Gajinya besar. Dan ia selalu mendapat ”tips” dari para pengusaha yang ia tolong, dan yang mendapatkan proyek besar, sudah pasti membook paket liburan ke Eropa buat ia sekeluarga sekalian uang belanja. Besar sekali jumlahnya. Bisa puluhan ribu dolar.
Setelah menjadi orang besar, sayangnya ia sudah amat jarang ke mesjid. Bahkan sembahyangnya sering bolong, karena kesibukannya.
Suatu hari habis main golf dengan para teman pejabat lainnya di daerah Bogor, ia merasakan badannya tidak enak. Mungkin masuk angin pak kata sopirnya. Ke ketempat pijat ya mang, katanya pada sopir. Di panti pijat langganannya, ia di pijat oleh seorang pemijat yang cantik ”all-in”. Ia pasti disediakan seorang pemijat paling ok oleh service manager di panti itu. Ia disediakan di ruangan VIP yang harum dengan lampu temaram yang membangkitkan birahinya setiap ia kesana. Si pemijat sudah siap dengan service prima untuk melayani sampai titik keringat terakhir.
Namun, sore itu ia merasakan aneh, adiknya yang paling tidak tahan melihat kemolekan tubuh si pemijat, biasanya sudah meronta dan siap untuk dipegangi, kali ini adem ayem saja. Aneh, si adik hanya tidur, si pemijat berkata, capek ya om, nih adiknya tidur aja, saya godain ya om, biar dia bangun, sambil kuku runcing si pemijat disentuhkan pelan-pelan supaya si adik bangun. Namun, tetap aja ia tidur. Dan kepalanya mulai pusing, mual juga. Ah benar nih, gua masuk angin kali. Neng, pijatin kepala saya, agak pusing nih, katanya ke sipemijat. Baik, om, si pemijat mulai mengacak rambutnya dan mengurut keningnya. Agak enak memang ia rasakan. Namun, kok keringatnya terasa dingin keluar, banyak juga. Kok keringatan om, ACnya kurang dingin kali.
Tiba-tiba ia berdiri. Mau kemana om kata si pemijat. Aku mau muntah rasanya, katanya. Ia berlari ke toilet, dan benar ia muntah- muntah. Akh, gak jadi pijat ya neng, katanya. Ia kembali memasang bajunya ditolong oleh si pemijat. Ia keluar dan langsung ke mobil. Mang, kita kerumah sakit aja, saya mual dan pusing sekali nih, katanya.
Ia ke rumah sakit di Pondok Indah. Ia diperiksa oleh internist, dan sampel darahnya di uji oleh laboratorium. Hasilnya mengagetkan dokter itu. Kadar gula 400, kholesterol 300, fungsi hati menurun, ada gejala gangguan fungsi jantung.
Dokter menganjurkan supaya ia dirawat selama tiga hari sambil observasi.
Akhirnya diketahui, bahwa ia mengidap hepatitis, dan penurunan fungsi ginjal.
Ia minta dikirim ke hospital di Singapura yang lebih canggih katanya.
Ia dirawat selama satu minggu di rumah sakit Metropolitan Singapore. Dan tetap tidak ada perbaikan, akhirnya kesadarannya menurun dan ia masuk ICU. Dengan canggihnya perawatan di rumah sakit itu, dan dibantu obat-obat mahal, ia ada perbaikan. Kemudian ia boleh pulang ke Jakarta, dengan harus dirujuk ke rumah sakit. Oleh dokter di Singapura, ia disuruh mengatur makan atau diet. Ia hanya boleh makan dengan sayur bening tanpa garam, seperti timun, bayam, dan makan ikan rebus juga tanpa garam.
Jadilah ia seorang yang tak berdaya lagi. Ia stres berat. Ia yang super kaya dan punya kekuasaan, sekarang tinggal jadi mayat hidup.
Isterinya yang cantik mulai bosan dengannya. Sonya sering keluar dengan Santo sopirnya yang masih muda. Ada-ada saja alasan Sonya, belanja, melihat rumah di Pondok Indah. Yang jelas mereka sering pulang larut malam. Rupanya Sonya melampiaskan nafsunya ke Santo yang masih muda. Santo mendapat durian runtuh. Gajinya di naikkan. Baru saja ia dibelikan sebuah motor Yamaha Sport baru seharga tiga puluh juta oleh Sonya. Ia telah menjadi pacar majikannya. Ia yang muda siap melayani nafsu binatang Sonya. Bahkan Sonya minta ampun kalau Santo telah galak di tempat tidur. Ia gigit semua permukaan tubuh Sonya yang menggelinjang minta di teruskan. Akhirnya petualangan itu berakhir dengan tertidurnya mereka berdua, Jam sebelas malam baru mereka balik.
Tinggallah sang mayat hidup menikmati kekelaman siksaan dunianya, yang menunggu hari akhirnya. Ia baru menyesal, ia yang tidak mau tahu dengan agama setelah ia jadi pejabat, shalat tidak pernah lagi, apalagi ke mesjid. Pada hal waktu kuliah di Bandung dulu ia termasuk aktivis mesjid. Kekayaan menyebabkannya lupa pada Tuhannya. Kini tersiksalah ia di dunia. Ia menunggu siksaan selanjutnya di akhirat kelak.
Al Qur’an menyindir sang pejabat dengan ayat berikut:
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan sangat yakin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) (At Takaatsur).
Tawassaw Bil Haaq:
• Janganlah kamu hidup berfoya-foya
• Ingatlah kelak kamu akan kembali ke akhirat
• Hindarilah neraka Jahannam
• Carilah Syurga buat tempat kembalimu
Langgan:
Catatan (Atom)